RSS Feed

When the Rain Stop

cover 44b6de68_umbrella-rain_02

Tittle: When the Rain Stop

Author: dkcappucino

Casts: Oh sehun | Kang yoomi (OC) | Hwang Minjung (OC)

Genre: Romance, Hurt/Comfort (actually not sure haha!)

Length: Vignette (1397 words)

Disclaimer: The story is officially mine. The casts belong to themselves, and my imagination.

 

Ini hanya tentang aku dan sehun, seseorang yang mengajarkanku sebuah hal-

Gerimis turun sedikit demi sedikit. Aku memutuskan untuk ganti baju dan segera tidur. Sehun tidak datang malam ini dan itu membuat kepalaku dipenuhi berbagai konflik, sementara tubuhku sudah terlalu lelah untuk memikirkannya. Mungkin benar apa kata minjung, sebaiknya aku mengakhiri hubungan ini.

Hujan mulai turun dengan lebat ketika aku sudah hampir berbaring. Tiba-tiba seseorang menekan bel rumahku. Hm.. mungkin itu dari binatu, mereka bilang akan mengantar cucian malam ini. Maka dengan sedikit malas, aku berjalan menuju pintu.

“sehun?!” seruku begitu membuka pintu. Jas abu-abunya tampak basah kuyup. Nafasnya tak beraturan. (kalau boleh berpendapat, saat ini dia tampak lebih err… keren!).

“yoomi ma-”

“cepat masuk!” potongku cepat. Aku segera berlari ke dalam mengambil handuk kering. “ini,” kataku seraya mengambil jas yang ia pegang.”kebetulan aku masih menyimpan baju kakakku. maaf ini sedikit lusuh.” aku menyodorkan sebuah kaos.

“tidak apa-apa. terima kasih..” ia tersenyum. “aku.. ganti baju dulu.”

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Aku menatap tubuh sehun yang basah hingga menghilang di balik pintu kamar mandi. Aku merasakan sesuatu yang tidak nyaman menyelinap di hatiku, antara sehun dan egoku. Aku masih berdiri di situ hingga sehun keluar dari kamar mandi.

“kau masih di situ?” tanyanya. Aku hanya berdiri terpaku menatapnya. pikiranku melayang-layang.

“yoomi? ada apa?”

“t-tidak. tidak apa-apa”

“kau yakin?” ia menatapku lekat-lekat.

Aku mengangguk cepat. “kau sudah makan?” tanyaku.

Ia menggeleng. “tentu saja belum. maaf, tadi jalanan sangat padat,” ujarnya.

“tidak apa-apa,” jawabku singkat.

“kau.. marah?”

Aku berusaha tersenyum.”kau mau makan apa?”

***

Sebenarnya, kalau boleh jujur, sejak awal aku tidak memiliki perasaan apapun pada sehun. Tapi entah atas dasar apa kubiarkan dia memasuki pintu hatiku. Entahlah, mungkin karena dia terlalu baik padaku (kekasih pujaan para gadis, begitu kata teman-temanku).

Aku pernah iseng bertanya padanya, hal apa yang membuatnya tertarik padaku. Dia hanya bilang “aku sendiri juga tidak tau. tapi begitu melihatmu pertama kali aku tidak pernah bisa menyingkirkan bayanganku tentangmu,” jawabnya sambil tersenyum menatap langit di suatu sore. terdengar sangat klise. Tapi aku bisa merasakan tidak ada keraguan di setiap ucapannya.

“aku juga,” balasku kemudian. sebuah jawaban yang terasa datar, tanpa makna. tapi dia membalasnya dengan seulas senyum malaikatnya. Saat itu aku merasa menjadi orang yang benar-benar jahat.

Ya, mungkin ini bisa disebut cinta sepihak—yang bodoh. Tapi aku lebih suka menyebutnya dengan cinta-yang-kosong, sebuah hubungan sia-sia tanpa makna (aku tau ini definisi yang aneh). Namun di sisi lain aku tidak bisa mengakhiri hubungan gila ini begitu saja. Alasannya? Sehun terlalu rapuh untuk mendengar keputusan sepihakku yang tak berdasar dan aku tidak tega melihatnya sedih. Hanya itu.

***

“yoomi, kurasa ada yang salah dalam otakmu,” kata minjung. Siang ini hujan tiba-tiba turun sangat lebat saat kami berdua baru saja selesai berbelanja. Kami memutuskan mampir di sebuah kedai kopi untuk berteduh. “apa yang salah dengan sehun? dia baik, tampan, punya pekerjaan, dan yang paling penting dia mencintaimu,” lanjutnya dengan penekanan pada kata ‘mencintaimu’. Satu kata itu membuatku seperti spons yang ditusuk 400 jarum.

Aku menghela nafas. “apa aku sejahat itu?”

“jika kau mau mendengar jawaban jujur dariku, aku akan berkata YA untuk itu,” jawabnya.

“minjuuunng,” rajukku.

“aku berkata begitu karena aku sahabatmu. Kau pikir aku akan membiarkanmu terjebak dengan masa lalumu, ha?” sahutnya. “hey, tunggu! Kau tidak sedang berada dalam bayang-bayang changjo kan?”

Aku menyesap moccachino-ku seraya menatap hujan yang mulai reda. “kuharap begitu.”

“astaga~ kang yoomi!! Ayolah.. Itu sudah setahun yang lalu dan kau masih memikirkan pria busuk itu?!”

Aku kembali menyesap moccachino-ku. Aromanya yang khas membuat pikiranku sedikit menenangkanku ketika minjung menyebut nama itu.

“kau harus membuat keputusan yoomi. Kau mau melanjutkan hubungan ini, dengan syarat kau HARUS belajar mencintai sehun dengan tulus. atau cukupkan sampai di sini.”

Oh, minjung! Seandainya kau tau.. Aku ini telah-sedang-dan-akan selalu memikirkan keputusan itu. Aku juga sudah BELAJAR untuk itu, walaupun sampai detik ini pun aku selalu gagal. “aku tidak punya alasan untuk itu minjung,” jawabku kemudian. kami terdiam sejenak, larut dalam pikiran masing-masing.

Minjung menyesap vanilla latte miliknya. “mmm.. sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini. Kau mungkin bisa melakukannya, mm.. itu pun juga kau mau,” katanya. “kau mungkin bisa minta tolong…. err.. myungsoo?”

“myungsoo?” ulangku. “apa maksudmu?”

Ia mendekatkan tubuhnya padaku “mmm.. ya, mungkin kau bisa.. menjalankan sebuah skenario,” bisiknya pelan.

“astaga! jangan bilang kau-” aku menggantungkan kalimatku. “tidak minjung! itu gila! aku tidak mau melakukan itu!” tolakku.

Minjung menghela nafas. “kau benar yoomi.. itu memang gila,” kata minjung akhirnya. ia menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi.

Di luar, hujan benar-benar sudah reda. Hanya tinggal tersisa bulir-bulir air yang menempel di kaca kedai kopi ini. Aku menempelkan tanganku ke kaca. Ada sedikit sensasi dingin yang seakan-akan mampu mendinginkan kepalaku. Aku tersenyum kecil.

“e-ehmm… y-yoo-yoomi..” minjung menendang-nendang kakiku.

“ada apa?” aku beralih menatapnya.

Minjung mengarahkan telunjuknya ke meja di belakangku. “sehun! sehun!” serunya tanpa suara.

Aku mengerutkan dahi. Apa dia bilang sehun? Apa benar sehun ada di sini? Di belakangku? Sekarang? Dengan ragu aku menoleh ke belakang. Seorang pria dengan kaos polo merah tuanya tampak duduk di sana sambil menikmati secangkir moccachino yang sama denganku. “s-s-sehun?”

Pria itu menoleh. “hi yoomi,” ucapnya sambil tersenyum tipis.

Pasokan oksigenku terhenti sesaat. Dunia rasanya berhenti berputar. Aku benar-benar tidak tau apa yang harus kulakukan selain diam mematung menatap pria di depanku. Bahkan otakku rasanya juga berhenti bekerja, benar-benar kosong! Samar-samar aku melihat minjung dari sudut mataku. Bahkan dia yang tadinya banyak bicara sekarang hanya diam sembari menutup mulutnya dengan tangan.

“hey, kau kenapa?” sehun mengibas-ibaskan tangannya di depanku.

“ahh.. t-tidak..” kataku pelan. “aku… tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini..”

Ia tersenyum. “aku juga,” ujarnya lalu memiringkan kepalanya. “apa itu minjung?”

Aku mengangguk. “kami baru saja pergi belanja,” ucapku.

Ia mengangkat tangannya. “hi minjung!” sapanya.

“e-eo.. hi..” balas minjung sambil tersenyum canggung. aku benci suasana canggung seperti ini.

“ehmm.. sehun..”

Sehun beralih menatapku. “hm?”

“bisa kita bicara?” tanyaku hati-hati. Aku yakin, entah sengaja atau tidak, sehun pasti sudah mendengar pembicaraanku dengan minjung (kami bicara lumayan keras, seolah-olah kami sedang bicara di kamar. Itu benar-benar bodoh! -_-).

Ia mengangguk pelan. “aku juga ingin membicarakan sesuatu denganmu,” ujarnya.

“minjung, maaf aku sepertinya aku tidak bisa menemanimu pulang,” kataku.

Ia mengangguk. “tidak apa-apa. aku mengerti,” sahutnya.

Aku meraih tasku dan beranjak sambil melambaikan tangan pada minjung. “sampai jumpa..”

Ia hanya mengangguk dan tersenyum seraya melambaikan tangan. “fighting!” katanya tanpa suara ketika sehun berbalik.

***

Selama perjalanan tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari kami. Aku hanya duduk diam sambil melihat keluar, sementara sehun juga hanya diam sambil tetap menyetir. Satu-satunya suara yang terdengar adalah suara renyah penyiar radio. aku bahkan tidak tau dia akan membawaku ke mana.

Akhirnya kami tiba di Namsan Park. Hujan siang tadi membuat jalanan masih sedikit basah. Aku menghirup udara dalam-dalam. Hmmm.. rasanya sejuk.

“yoomi..” kata sehun. “maaf, aku tidak bermaksud mendengarkan pembicaraan kalian.”

“akulah yang seharusnya minta maaf,” ujarku. “maaf. seharusnya aku tidak membicarakan masalah ini sembarangan.”

Ia berhenti dan menatapku. “ya. seharusnya kau membicarakan masalah itu padaku, bukan pada temanmu,” sahutnya. “dan seharusnya kau mengatakannya sejak awal.”

“maaf..” aku sedikit menunduk.

“itu tidak hanya menyakitiku, yoomi. Itu juga membuatmu menderita, dan aku tidak suka itu.”

Aku menunduk semakin dalam, tanpa berani mengucap sepatah kata pun.

“maaf aku sudah membohongimu. Aku tidak bermaksud menyakitimu.”

Ia mengangguk pelan. “kurasa kita perlu beberapa waktu untuk tidak saling menghubungi,” katanya.

Aku meremas tanganku diam-diam dan mengangguk pelan. “aku.. benar-benar menyesal. Kurasa aku terlalu egois,” ucapku lirih. Kami diam sejenak.

“berhenti berkata seperti itu dan angkatlah wajahmu yoomi..” ia mengangkat daguku lembut. ia tampak tersenyum, entah apa maksudnya.

“ini bukan sepenuhnya salahmu. seharusnya aku bisa lebih pandai membaca situasi,” ujarnya lalu menghela nafas. “mungkin kau tidak akan mendapatkan sms atau telepon dariku untuk beberapa waktu. Mungkin juga kita tidak akan bertemu entah berapa lama, setidaknya sampai kita bisa menata perasaan.”

Aku diam beberapa saat. “ya.. kau benar. Kurasa memang itulah yang kita butuhkan.”

“kuharap itu tidak akan lama,” katanya sambil mengedikkan bahu.

Aku hanya mengangguk pelan dan tersenyum kecil. Rasanya jarum-jarum yang menusukku tadi sudah berkurang setengahnya. Aku menatapnya lekat-lekat.

“sampai jumpa yoomi. senang bisa mengenalmu dan terima kasih untuk semuanya. Aku akan sangat menunggu waktu itu,” ia tersenyum.

Aku mengangguk dan tersenyum. “aku juga. maaf untuk semuanya.”

Ia tertawa kecil sambil melambaikan tangan lalu berbalik pergi.

Aku melambaikan tangan “sampai jumpa.” aku menatap lekat tubuh tinggi itu sampai ia benar-benar hilang dari pandanganku.

Mungkin, bagi sebagian orang ini bukanlah kisah cinta romantis yang berakhir bahagia. Tapi bagiku ini kisah cinta yang indah. Sebuah kisah yang mampu mengajarkanku tentang makna cinta itu sendiri.

Bagaimana menurutmu?

THE END

A/N

Kyaaa!! Entah atas dasar apa aku nulis ff macam ini. ini gara-gara nggak tega liat 1 paragraf awal yang aku tulis di hape gegara lagi bete di kampus trus jadi lanjut sepanjang ini. Sebenernya pas ngelanjutin ini bener-bener nggak tau harus dibawa ke mana cerita ini (soalny awalnya absurd banget).  Dan buat ngasih judul ff ini aku mikir lama banget <<< nggak bisa banget suruh bikin judul.

Semua cast yang namanya disebut di sini, ditulis accidentally, alias nggak pake lama mikir. Jujur, sebenernya nggak tega melakukan ini pada sehun. T.T sorry sehun L /peluk sehun/

Baidewai, ini masih winter kan ya? Haha.. Awalnya aku mau ngepost ini di Desember tapi baru sempet ngepost sekarang.. hehe..

Okay! Thanks for reading. Comments and likes are much appreciated.

Merci beaucoup~ ^.*

Advertisements

About dkcappucino

A small person in a world of big people || dkhapsari.tumblr.com

17 responses »

  1. sehun-aaaahhhhhhh >..< *peluk sehun erat"* *stres tingkat akhir* *okay, I should stop*

    kenapa kamu selalu bikin fics yg minta diteriakin 'sequel! sequel! sequel!* sih ?? -3-
    dan kenapa nulis angst ?? bukan kamu bgt deeehhh hehehehe *minta dijitak*

    anyway, sedih bgt fics mu ini…
    bsk bikin lagi ya hahaha
    great story ^.~

    Reply
  2. sehun-aaaahhhhhhh >..<
    *peluk sehun erat"* *stres tingkat akhir* *okay, I should stop*

    kenapa kamu selalu bikin fics yg minta diteriakin 'sequel! sequel! sequel!* sih ?? -3-
    dan kenapa nulis angst ?? bukan kamu bgt deeehhh hehehehe *minta dijitak*

    anyway, sedih bgt fics mu ini…
    bsk bikin lagi ya hahaha
    great story ^.~

    Reply
    • sehunnieeee… so to the ryy… sorryyy!! i feel burden make this T.T *ikut peluk sehun*

      kan aku ud bilang, aku ga tau knp aku nulis ini. ini tanganku yang ngetik, aku nggak tau apa-apa (?)

      hahahaha.. salahkan tugas yang seabrek pas aku bikin ini *dijitak dosen*

      aahh~ terima kasiih… *bow deeply*
      padahal aku bikinnya ini ga terencana, awlny castnya bukan dedek sehun dan ga begini ceritanya hehe

      Reply
  3. awww~ A+++ \^^/ *tepuk tangan bareng chen*
    iih sehun move on sama aku aja 😉 *kedip kedip*
    hihiing
    mungkinkah aku egois kalo aku minta FF ini dipanjangin? 😉 hehehe

    Reply
    • kyaa~~ ita! kamu kok bisa sampe sini??? aku jadi terharu.. *ciccu mana ciccu* ><
      ih.. kan kamu sama d.o, kok kamu nakal sih haha..
      ehm.. nggak sih.. tapi maaf mgkn ga aku panjangin hehe..
      btw ff ita apa kabar? 😀

      Reply
  4. sehun dinistakan sama dian~ kkk..
    kasian lho. kalo g mau sma sehun buat aku aja. tak jadiin sopir.

    keep writing di~ aku blum bs publish bnyak. sibuk~

    *2011cA. sssttt jgn bilang2 ya 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: