RSS Feed

Why So Serious?

Image

Title : Why So Serious?

Main Cast : Kim Minseok / Xiumin EXO

Kim Aerin (OC)

Support Cast : Kim Jongdae / Chen EXO-M

Yong Junghyung Beast

Goo Hara Kara

Genre : Romance, Comedy (not sure, haha)

Rating : PG-13

Disclaimer : this story is belong to me and my mind haha..

***

Aku mendengus kesal. Kuamati setiap mobil yang masuk ke gedung apartemenku. Kusilangkan kedua tanganku di depan dada. “benar-benar..” desahku kesal. Kulihat jam tanganku untuk kesekian kalinya. 12.35. tepat 35 menit sudah aku bertingkah gelisah! Aku kembali duduk di sofa, mengganti channel TV.  Orang ini benar-benar! Kuambil ponsel yang tergeletak di sofa. Kucari sebuah nama dan kutekan ‘call’. tut.. tut.. tut.. tidak ada jawaban. “ke mana dia?” tanyaku gusar. Kuulangi sekali lagi.

“yeoboseyo…”

“kau sudah berangkat?”

“oh.. ya..hampir..”

“jadi daritadi belum berangkat?!” suaraku sedikit meninggi.

“ah..begini.. aku tadi..”

Aku memutar bola mataku. “tidak perlu dijelaskan.. cepatlah kemari!”

“ne..ne.. arasseo.. 5 menit lagi aku berangkat..” katanya terburu. 5 menit lagi? aku melirik jam. Astagaaa.. percuma aku berdandan  dari tadi.

“eum..” aku menutup telepon. Perjalanan dari rumahnya sampai apartemenku 10 menit, jadi dia baru sampai sekitar 15 menit lagi. sabar aerin.. sabar.. aku menghembuskan nafas lagi lalu beranjak mengambil segelas air. Tapi mau sampai kapan sabar?!  aku meremas gelasku.

20 menit kemudian…

DING DONG! Itu dia! aku berhenti di depan video kamera cctv,memastikan apa itu benar dia. ah benar! Aku langsung memasang wajah kesal seraya membuka pintu.

“aerin-ah… kau sudah lama menunggu?”

“menurutmu?” aku mengalihkan pandangan.

“kau marah ya?” ia menggodaku.

Aku memberengut. “jadi pergi tidak?” tanyaku ketus.

“kalau kau masih marah begini.. ehm.. bagaimana ya..” ia membuat wajah sok berpikir. Aku langsung menatapnya sengit. “tidak jadi juga tidak apa-apa!” aku mengayunkan daun pintu, hendak menutupnya.

“eh.. eh! Aku kan hanya bercanda..” ia menyeringai lebar. “gadisku ini memang galak sekali.. ck ck ck..” ujarnya setengah berbisik sambil geleng-geleng kepala. Aku meliriknya, memberinya death glare.

Ia langsung menutup mulut dengan tangannya. “oke! Aku tidak akan bicara lagi”

Tiba di tempat parkir, ia langsung membukakan pintu mobilnya untukku. “silakan nona..” katanya lembut, lengkap dengan gerakan door boy. Aku meliriknya sekilas, masih dengan muka cemberut. mau menyogokku? cibirku dalam hati.

“mau makan di mana?” tanyanya begitu duduk di depan kemudi.

Aku mengangkat bahu. “kau masih marah? Iya.. iya.. aku minta maaf..” katanya.

“stok permintaan maafmu kapan habisnya?” aku melemparkan pandangan ke luar.

“iya.. aku tau aku salah dan bukan kali ini saja. aku akan berusaha untuk tidak terlambat lain kali. Aku janji..” ujarnya, masih dengan senyuman—yang menurutku menyebalkan. “nah, sekarang kau mau makan di mana?” tanyanya. “La Sfera? Crusty Crab?” celotehnya.

Aku hanya meliriknya sekilas, tidak bisakah kau bersikap sedikit lebih serius KIM MINSEOK?!

“aa~ aku tau arti lirikan itu! tempat biasanya kan?” ia mengerling padaku. Aku menghela nafas panjang. Rasanya aku ingin membenturkan kepalaku di The Great Wall. AKU MENYERAH!

Aku menarik sabuk pengaman dengan malas. tiba-tiba, tangan minseok menghentikan gerakan tanganku. Lalu ia mengaitkan sabun pengamanku dan diakhiri dengan senyuman. Aku hanya mentapnya ganjil. Ada apa dengannya? Ini bukan gayanya, sama sekali bukan! Dia bukan tipe pria romantis. Tapi aku urung bertanya, hanya diam-diam memperhatikan setiap gerak-geriknya.

“kenapa melihatku seperti itu?” tanyanya sebelum menginjak pedal gas. Aku menoleh dan hanya menjawabnya dengan gelengan. “apa aku terlihat tampan hari ini?” godanya. Aku hanya memasang muka masam sambil geleng-geleng kepala lalu kembali menatap keluar. Ia hanya tertawa renyah seraya menghidupkan audio mobil dan langsung terdengar suara empuk Adam Levine.

 

Sunday morning rain is falling

Steal some covers share some skin

Clouds are shrouding us in moments unforgettable

(Maroon 5-Sunday Morning)

Samar-samar terdengar minseok bersenandung kecil seraya mengetuk-etukkan jemarinya ke kemudi mengikuti irama lagu. Aku masih memalingkan muka darinya. “mm.. aerin-ah..” katanya tiba-tiba. aku menoleh. “uhm?”

ia terdiam beberapa saat. “ahh.. tidak..” katanya. aku menatapnya penuh selidik. “tidak. Tidak jadi. Tidak penting..” jawabnya sambil menggerak-gerakkan bibirnya, seperti gerakan mengulum senyum.

“apa yang kau sembunyikan dariku?” selidikku.

Ia menggeleng kuat. “eobseo!”

“jinjja?” desakku. Ia mengangguk mantap.

“lalu kenapa kau senyum-senyum begitu?”

“aah~ Aku makan permen!” katanya lalu menunjukkan permen yang dikulumnya. “kau mau?”

Aku memutar bola mataku. “tidak,” jawabku seraya menyandarkan tubuhku kembali. Ia tertawa sambil sesekali melihat ke arahku. “kau ini kenapa? aneh sekali,” katanya di sela-sela tawanya. Kau itu yang kenapa?!

Untuk yang kesekian kalinya hari ini, aku menghela nafas lagi. ahh~ minseok.. tidak bisakah dia bersikap lebih serius? Bagaimana dia mau melamarku kalau setiap hal selalu dianggapnya lelucon? Aku jadi ingat, saat kuliah dulu dia hampir tidak lulus gara-gara ia kehilangan data tugas akhirnya! Awalnya dia memang stress setengah mati, tapi lihatlah 1 jam kemudian. Dia hanya menanggapinya dengan santai dan malah asyik berkelakar denganku sementara aku sibuk mencari cara untuk menyelamatkannya! jadi akulah yang malah lebih sibuk dan stress dibanding dia saat itu. untungnya, entah bagaimana caranya, kami menemukan data itu tersimpan di komputerku yang sudah usang dan jarang kupakai lagi (karena aku lebih sering memakai laptopku). Entah saat itu aku harus lega atau malah kesal, berharap sekalian saja data itu tidak ketemu. see? Kalau begini terus, bagaimana orang tuaku akan mempercayakan putri kesayangan mereka ini untuk menjalani sisa hidupnya dengan pria yang penuh dengan canda dan tawa seperti minseok ini?!

“aerin-ah?” minseok mengibas-ibaskan tangannya di depan wajahku. “o-oh..” aku gelagapan seraya memperbaiki posisi dudukku.

“kita sudah sampai. Apa yang sedang kau pikirkan?”

Aku menggeleng cepat. “tidak ada..”

“eey.. aku tau kau sedang memikirkan sesuatu..”

“tugas kantor. Ada beberapa yang belum kuselesaikan.. aah~” kataku berbohong. Ia tertawa. “hey! ayolah.. ini hari minggu nona! Kau masih saja memikirkan hal-hal semacam itu, huh?”

Aku menyeringai lebar lalu merapikan penampilanku, sementara minseok sudah turun duluan.

“silakan nona..” ucapnya setelah membukakan pintu mobil untukku. aku hanya bengong melihatnya. “e-eo.. gomawo..” kataku akhirnya. Ia tersenyum simpul sambil menggandengku.

Restoran ini cukup ramai siang ini. Kami duduk di tempat biasa. “minseok hyung!” panggil salah seorang pria berpakaian pelayan. Pria itu kemudian berjalan menghampiri kami. Jongdae namanya. Dia adik kelas minseok sekaligus pemilik restoran ini, tapi terkadang merangkap sebagai pelayan—jika dibutuhkan. Padahal menurutku retoran ini sudah punya karyawan yang cukup. Hmm.. ya.. tipikal bos yang baik.

“oh hi!” balas minseok seraya memberikan high five. “mau pesan apa?”

“apa menu special hari ini?” tanya minseok.

“spicy beef with harvest vegetable salad. Tapi karena aerin noona tidak begitu suka pedas, aku bisa menguranginya”

Aku mengangguk kecil. “kedengarannya bagus, aku pesan itu,” kataku. “minumnya? ehm..” aku melirik minseok. “lemon juice!” kata kami bersamaan.

“oke!” jongdae menulis pesanan kami sambil tersenyum lebar. “kuulangi, 2 spicy beef with harvest vegetable salad dan 2 lemon juice. Baiklah, mohon tunggu sebentar..” katanya.

“eh! Tunggu!” cegah minseok. “terburu-buru sekali kau ini.. hey, bagaimana?” ia memberikan isyarat lewat matanya. “apa?”

“kau pura-pura tidak tahu ya? mau sampai kapan kau menyandang status single, ha?”

“ahh.. hyung.. jangan tanyakan itu lagi.. aku sudah cukup frustrasi karena ibuku mendesakku menikah akhir-akhir ini..”

“hey.. sudah sepantasnya kan? kau mau jadi pria lajang seumur hidup?”

“tentu saja tidak, hyung! aah.. ini gara-gara seminggu lalu, ibuku baru saja menghadiri pesta pernikahan anak temannya. anak temannya itu seusia denganku. gara-gara itu ibuku jadi mendesakku untuk segera menikah. padahal aku sudah bilang, aku tidak mau menikah muda! Se7en dan Park Hanbyul bahkan sampai sekarang juga belum menikah, apa salahnya..” sungutnya.

“mungkin maksud ibumu, setidaknya segeralah kau mencari kekasih, jangan hanya sibuk bekerja..” ujarku. “kau tidak sedang terjebak dengan masa lalumu kan?”

“tidak! Aku hanya belum ingin memikirkan masalah seperti itu. itu saja..”

“memangnya kau punya rencana menikah umur berapa?”

“hm.. ya.. mungkin sekitar 30-an.. entahlah..” ia mengedikkan bahu. “mungkin sekitar itu.. kalian sendiri, kapan mau menikah? Sampai sekarang sepertinya belum ada tanda-tanda kalian akan segera menikah..”

Aku dan minseok hanya saling lirik. “hey, mau kukenalkan dengan temanku?” kata minseok tiba-tiba.

“tidak! Yang kemarin sudah cukup! Aku tidak percaya dengan rekomendasimu lagi!”

“memangnya kenapa?” tanyaku.

“dia menjebakku berkencan dengan ajumma, umurnya hampir seumuran dengan ibuku, noona! ahh! Tidak.. tidak! Aku tidak mau lagi dijebak olehnya!”

Aku menatap minseok tak percaya. “kau ini bagaimana sih?!”

Ia tertawa. “habis, dia bilang menyukai wanita yang lebih tua..” katanya sambil tertawa.

“jadi pesan tidak?” tanya jongdae kesal.

“kau ini! iya, tapi bukan ajumma juga kan? kau pikir dia gerontofilia? Lagipula memangnya tidak ada yang lebih muda?” omelku.

“ dia tidak spesifik menyebutkan umurnya siih…” balasnya masih dengan sisa-sisa tawanya.

“tapi seharusnya kau sudah paham soal itu kan?” kataku gemas.

“jadi pesan tidak?” ulang jongdae jengah.

“iya jadi!” kataku dan minseok bersamaan—dengan nada yang berbeda.

“tunggu sebentar!” kata jongdae ketus lalu pergi.

Aku mengedarkan pandanganku. Hmm.. benar juga kata jongdae.. kapan kami mau menikah? Kami sudah hampir 3 tahun berkencan. umurku dan umurnya juga sudah terbilang layak—dan memang sudah saatnyauntuk menikah. Aku mengalihkan pandanganku pada minseok yang juga sedang asyik mengamati situasi sekitar. Tapi, apa aku bisa bertahan dengan sikapnya yang terlalu santai itu?

Tak lama kemudian datanglah seorang wanita mengenakan dress putih di atas lutut bermotif garis horizontal hitam, tampak manis dengan tubuh mungilnya. “kadang aku juga tidak tahan dengannya,” katanya di telepon lalu duduk di meja sebelah kami.

“aku mau ke toilet dulu..” minseok beranjak. Aku hanya mengangguk kecil.

“haah~ entahlah young joo.. mungkin sesekali dia harus ikut terapi tertawa,” katanya. “dia itu terlalu kaku, terlalu serius! Aku bosan melihat ekspresinya yang datar-datar saja itu..” gerutunya. Aku langsung teingat minseok. Datar-datar saja? itu tidak ada dalam kamus hidupnya. Bahkan di saat terdesak sekalipun!

Sebentar kemudian seorang pelayan menghampirinya, menanyakan pesanan lalu pergi setelah mencatatnya. “ehm.. ya.. hampir 3 tahun, dan tidak ada perubahan berarti selama itu.“ hampir 3 tahun? Mungkin hampir sama dengan hubunganku dan minseok. Tapi apanya yang hampir 3 tahun?  (aerin’s want-to-know mode : ON!)

“belum, dia belum datang. Katanya dia akan sampai sebentar lagi..” ia berhenti sejenak. “hahaha… kau ini! membuatku merasa bersalah saja, menggosip kekasihku sendiri!” ia tertawa kecil. “habis, mau bagaimana lagi.. apa? membuat iri? Apa maksudmu?” ia tertawa lagi. “ya, bisa dibilang junhyung oppa memang mendekati sempurna.  Tampan, baik, romantis—kadang, jenius bermusik, hmm.. apalagi?”

 

Tampan? Minseok masuk kategori itu. check! Baik? Oh, tentu saja! check! Romantis? Ehmm.. untuk hari ini sih, bisa dibilang cukup. Tapi biasanya sih tidak. Aku menggeleng. Lewati yang ini, lagipula aku juga tidak terlalu suka diperlakukan romantis, aku suka yang apa adanya. Jenius bermusik? Suara minseok tergolong bagus kok! Bahkan mungkin agensi artis seperti SM Entertainment pasti akan berpikir 100 kali untuk menolaknya. Check!

“2 gelas lemon juice nona..” tiba-tiba seorang pelayan datang mengantar minuman kami. “eo.. gamsahamnida…” ucapku. Aku langsung menyeruput lemon juice-ku, dengan perhatian terfokus pada wanita yang duduk di meja sebelahku.

Tak lama kemudian, dari arah pintu, masuklah seorang pria mengenakan t-shirt yang dipadu dengan kemeja dan celana jeans. Ia mengenakan kacamata bening berbingkai besar. Terlihat sporty sekaligus fashionable! Keren! Pria itu berjalan ke arah kami. Di belakangnya tampak minseok yang baru saja dari toilet. Pria itu sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan minseok.

Wanita itu menoleh ke arahnya. “young joo-ya, sudah dulu ya, nanti kuhubungi lagi,” katanya setengah berbisik lalu menutup telepon. “oppa!” sapanya. Oh, jadi ini yang namanya junhyung.

“hara-ya, maaf membuatmu menunggu lama,” katanya pada wanita di sebelahku. Jadi namanya hara..

“tidak kok.. oh ya, aku sudah pesankan chocolate latte untukmu,” sahutnya seraya tersenyum lebar. pria itu hanya tersenyum kecil lalu duduk.

“waa~ sudah datang ya?” kata minseok begitu melihat 2 gelas lemon juice di meja kami. Belum sempat ia duduk, ponselnya berdering. “oh?” ia menatap layar ponsel. “sebentar ya, aku angkat telepon dulu,” katanya.

Aku menahan tangannya. “dari siapa?” tanyaku. “sebentar,” bisiknya lalu menjauh. Aneh.. dia tidak pernah seperti itu. jika sedang bersamaku, dia selalu menerima telepon di tempat di mana ia berada, tidak menjauh seperti ini. hmm.. mungkin ada suatu hal yang penting.. yang jelas aku yakin dia tidak mungkin bermain di belakangku. Diam-diam aku melirik pria yang duduk di hadapan wanita yang daritadi kuintai. Hm.. lumayan juga.. ya, kuakui dia memang tampan. Tapi wajahnya terlihat ehm.. tidak bersahabat?  Ya, kira-kira seperti itulah. Sepertinya dia jarang tersenyum, seperti yang dikatakan wanita bernama hara itu di telepon, datar-datar saja.

Iseng-iseng aku mendengarkan pembicaraan mereka. terdengar dataaaaaar sekali. sangat berbeda jika aku mengobrol dengan minseok, kami tidak pernah absen untuk tertawa atau sekedar tersenyum. aah~ tiba-tiba terselip rasa bersalah dalam diriku. Tidak seharusnya aku mempermasalahkan sifatnya yang selalu santai itu. bayangkan saja jika aku berkencan dengan pria bernama junhyung itu, bisa-bisa aku bertambah tua lebih cepat! Minseok selalu bisa membuatku tertawa saat aku sedang stress, marah, ataupun sedih.

Sebentar kemudian pria yang kupikirkan kembali. “dari siapa?”

“yixing,” ia menyeruput lemon juice-nya.

“kenapa harus bicara di luar? Apa yang kalian bicarakan?”

“kau mau tau saja..” ia menjulurkan lidahnya padaku. “ya~ pasti ada yang kau sembunyikan. Ayo mengaku!” desakku. “tidak ada!” sahutnya.

“pesanan datang!” seru jongdae dengan gaya-pelayan-profesionalnya. Lalu ia meletakkan 2 piring makanan, masing-masing untukku dan minseok. “waa~ sepertinya enak..” gumamku senang. “gomawo!”

Jongdae tersenyum lebar lalu melirik minseok. “hyung, bagaimana?” tanyanya tanpa suara.

Minseok mengacungkan ibu jarinya diam-diam. “ada apa sih?” tanyaku penasaran.

Jongdae mengulum senyum “tidak.. selamat menikmati!” katanya sambil berlalu. “eh! Tunggu dulu kim jongdae!” aku menahan tangannya. “katakan padaku apa yang sedang kalian sembunyikan!”

“noona, lepaskan! Kau mau selingkuh di depan kekasihmu?”

“jangan banyak bicara! Katakan padaku! Dari tadi kalian itu aneh sekali. apalagi kau!” aku menunjuk minseok.

“tanyakan saja padanya,” kata jongdae. “sudah lepaskan! Kalau sampai ketauan aku mengobrol dengan pelanggan, aku bisa dipecat,” ujarnya. Aku menatapnya aneh. kau kan bosnya?

Aku melepaskan tangannya. “haah~ untung saja bosku sedang pergi berkencan, jadi dia tidak tau,” katanya seraya merapikan bajunya. “sudah ya, aku mau melanjutkan pekerjaanku..” ia lalu pergi. Dasar anak aneh! sepertinya dia sudah mulai gila gara-gara terus didesak ibunya untuk segera menikah..

Aku mulai bersiap makan dan beralih pada minseok. “kim minseok,” kataku. “hm?” jawabnya seraya menguyah.

“katakan padaku apa yang sebenarnya kau sembunyikan”

Ia menghela nafas lalu menatapku. “haruskah?” sahutnya dengan ekspresi nakalnya.

“kau tidak sedang bermain-main di belakangku kan?” selidikku.

“ya~ kenapa kau bisa berpikir seperti itu? mana mungkin!”

“lalu apa? pasti kau, jongdae, dan yixing menyembunyikan sesuatu. Ayo mengaku!” aku menodongkan pisau ke arahnya, membuatnya memundurkan tubuhnya. “ae-aerin.. kau membuat kita jadi pusat perhatian..”

Aku memberinya death glare andalanku. “katakan!”

“iya.. iya.. tapi turunkan ini! kau mau 3 bulan lagi tidak jadi menikah, ha?”

“huh?” aku mengernyit. Apa aku tidak salah dengar? Aku? Menikah? 3 bulan lagi? “ah.. sial..” desahnya pelan. aku lantas menurunkan pisauku perlahan, seraya mencerna kata-kata minseok.

Ia menghela nafas. “aku tidak percaya akan merusaknya secepat ini, hfft..” gumamnya. “baiklah, aku akan memberi tahumu, tapi selama aku menjelaskan kau tidak boleh menyela, bertanya, ataupun komentar, apalagi tertawa. Janji?” aku mengangguk cepat. Ia menghela nafas lagi. “sebenarnya selama ini aku diam-diam sedang merencanakan pernikahan kita. 3 bulan lagi..”

“kenapa kau tidak meli..” demi melihat tatapan tajam minseok aku urung melanjutkan kalimatku. Kenapa dia tidak melibatkanku? Aku kan juga ingin disibukkan mengurusi hal seperti itu bersamanya..

“mm.. sebenarnya sih ini ide kris dan baekhyun. Kau tau kan aku tidak bisa bersikap romantis. Jadi semua ini murni rencana mereka. Bahkan baekhyun memaksaku mengikuti training..” ia memutar bola matanya. Training? Aku mengerutkan dahi.

“aku sudah latihan untuk bersikap romantis seminggu ini. membukakan pintu mobil, memakaikan sabuk pengaman, dan hal-hal konyol lainnya.. haah~” ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Astaga.. pantas saja dia tampak tidak kaku tadi.

“eh… tunggu.. kau.. latihan dengan siapa?” tanyaku akhirnya. Aku harus tahu bagian ini, bisa gawat kalau dia melakukan latihan itu dengan gadis lain.

“luhan,” jawabnya singkat seraya mengiris daging. “lu.. luhan?” ulangku. “kau latihan dengan luhan?”

Ia mengangguk. “aku membukakan pintu untukknya, memakaikannya sabuk pengaman, menyuapinya, bahkan mengatakannya kata-kata romantis padanya, seakan-akan dia adalah kau. haah~ itu benar-benar menjijikkan!” sahutnya dengan mulut penuh. Kalau saja aku tidak ingat janjiku di awal tadi—dan demi melihat muka masam minseok—hampir saja tawaku meledak membayangkan itu. ya, setidaknya dia sudah berusaha..

“aku sudah menyiapkan event organizer handal untuk mengurus acaranya,” ucapnya. “suho?” tebakku.

Ia tersenyum lebar sambil mengangguk. “aku yakin semua akan berjalan lancar. Kau tenang saja. aku sudah punya pasukan yang siap membantuku..” ia mengerling padaku. Pasukan yang dimaksud adalah ke-11 sahabatnya yang ajaib—jongdae, yixing, kris, baekhyun, suho, dan luhan adalah beberapa di antaranya.

Aku tertawa mendengarnya. Hari ini aku melihat keseriusan dari sinar matanya. Ohh.. tidak! tidak hari ini saja!  dia selalu menatapku dengan seperti itu. dia selalu menunjukkan keseriusannya lewat sinar matanya yang jenaka. Astaga! Kau benar-benar bodoh aerin! bagaimana bisa kau tidak menyadarinya?! “minseok-ah.. mianhae..” kataku kemudian. Ia mengernyit. “untuk apa?”

Aku melirik meja sebelahku. Ah.. mereka sudah pergi rupanya. Semoga saja wanita bernama hara itu segera menemukan kejutan dalam diri junhyung. Aku beralih menatap pria di hadapanku lalu sedikit menunduk dan menggeleng cepat seraya mengulum senyum.  “ya~ ada apa?” tanya minseok.

Aku menatapnya sambil tersenyum lebar. “lupakan!” kataku tersipu.

“ayo katakan!” ia menodongkan pisaunya ke arahku, seperti yang kulakukan tadi.

Aku menyodorkan leherku. “ayo silakan saja.. kalau kau mau pernikahanmu 3 bulan lagi gagal.. hm?”

“eummm.. kalau begitu aku akan cari yang lain..” ia menjulurkan lidah lalu tertawa keras mengejekku.

Aku mencubit pipinya “awas saja kalau kau berani bao zi!!”

-The End-

PS: setelah sekian lama fan fiction ini tercenung di PC, akhirnya saya post juga.. haha..

sedikit sedih pas dengar hara dan junhyung berpiah huhuhu…

nah, akhir kata.. bagi setiap pembaca dimohon dengan amat sangat-dengan segala kerendahan hati author-meninggalkan comment, saran, atau kritik juga boleh..

terima kasih banyak.. ^^

Advertisements

About dkcappucino

A small person in a world of big people || dkhapsari.tumblr.com

9 responses »

  1. diaaan~ >..<
    daaan~ jongdae ku disitu.. lucuuu :3

    Reply
  2. awalnya tak kira jongdae lho, eh, malah si umin… tapi tapi tapi…. umin itu imut, bukan tengil… ini dia dbikin tengil bgt… klo chanyeol aku percaya.

    gak serius? siapa bilang umin g serius? serrius bgt dia mah~ serius-imut-banget. kkk~ 😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: