RSS Feed

[Oneshot] Autumn

Image

Main Cast : EXO Byun Baekhyun

Park Sun Ri (OC)


Support Cast: Do Kyung Soo (EXO)

Kwon Yuri (SNSD)

Park Sun Young (f(x))

Choi Minhee (OC)

and Other cast

 

Genre:  Romance

 

Summary: kau selalu tahu jalan pulang ke rumah, hanya itu.

Hope you’ll enjoy it.. dan jangan lupa RCL! Kritik dan saran yang membangun sangat ditunggu.. ^^

***

Aku menghela nafas, menatap PR matematikaku. Stuck! Kalau otakku mesin, mungkin sudah mengeluarkan asap saking kerasnya bekerja. Aku melirik jam. Eomma belum pulang, ia akan pulang terlambat malam ini. Kalau appa sih, sudah biasa jam segini belum pulang. jadi di rumah hanya ada kyungsoo, aku, dan yuri eonni.

Aku merenggangkan tubuhku lalu beranjak dari meja belajar. Aku berjalan keluar kamar. Tiba-tiba.. PYAAARRR!! Aku segera berlari turun. Pasti kyungsoo! Kyungsoo kan punya ‘kekuatan istimewa’. 60% barang yang disentuhnya kemungkinan akan rusak, pecah, cacat, atau sejenisnya, alias dia sangat ceroboh. Apa yang pecah kali ini? semoga bukan guci antic milik appa.. atau hiasan keramik eomma.. atau bingkai foto kelulusan SD-ku.

“kyungsoo-ya!” pekik yuri eonni. Yuri eonni tampak berkacak pinggang dan kyungsoo hanya melihat ke bawah, ke arah pecahan gelas yang memisahkan mereka berdua.

“sudah kubilang hati-hati!” seru yuri eonni.

“tapi gelas itu tidak sengaja terlepas,” kyungsoo membela diri.

“itu karena kau tidak hati-hati!”

“aku sudah hati-hati, tapi kakiku terbentur kursi”

“itu artinya kau tidak hati-hati!” omel yuri eonni. Segala hal harus sempurna di mata yuri eonni, kakak sepupuku. Dia adalah putri tunggal bibiku yang tinggal di Goyang. orang tuaku sudah menganggapnya sebagai anak tertua mereka. Yuri eonni adalah seorang perfeksionis dan higienis. Dan bibikulah yang bertanggung jawab atas sifat tersebut. Sifat itu sebenarnya juga ada di ibuku, tapi untungnya tidak separah bibiku dan anaknya ini—mungkin karena sudah beradaptasi dengan sifat appa yang ceroboh. jadi bisa dibayangkan kalau kyungsoo yang ceroboh digabung dengan yuri eonni yang perfeksionis.. haah~

Aku melihat ke arah kyungsoo. Bahunya naik-turun dan wajahnya cemberut. Aku akhirnya berinisiatif memunguti pecahan gelas yang besar-besar. Ini tidak akan selesai kalau kalian berdua hanya saling menatap dan adu mulut! batinku. Yuri eonni mendesis kesal lalu membuang muka dan mulai membantuku

Kyungsoo ikut berjongkok memunguti pecahan gelas. Aku menahan kakinya. “pakai sandal,” aku menggerakkan kepalaku ke arah sandal rumah yang ada di dekat dapur. Ia diam sejenak menatapku lalu bergegas memakai sandal. Yuri eonni mengambil vacuum cleaner dan membersihkan serpihan-serpihan gelas sambil terus menggerutu. Pemandangan seperti ini sudah biasa kulihat. Kyungsoo berbuat kesalahan, yuri eonni mengomel, kyungsoo membantah, yuri eonni membereskan kesalahan kyungsoo sambil menggerutu, kyungsoo ikut membereskan kesalahannya dengan cemberut. Dan aku? Aku adalah penonton yang baik.

“ah ya… sunri-ya.. tolong keluarkan kueku dari oven,” kata yuri eonni.

“ne..” aku beranjak menuju oven.

DING! DONG! Bel berbunyi. Siapa itu? “kyungsoo-ya coba lihat siapa di luar,” suruhku seraya mengeluarkan kue dari oven. Hmm.. baunya harum sekali.

“eits!” yuri eonni menepis tanganku yang hendak menyentuh kue itu. “ini bukan untukmu”

“untuk siapa?”

“anak kecil tidak perlu tau,” jawabnya sambil menyusun toping.

“untuk kekasihmu?” tebakku.

Ia melirikku sebentar lalu kembali menatap kue itu sambil senyum-senyum. “oppa yang pernah mengantarmu itu?”

“maksudmu taecyeon? Tentu saja bukan! Sudahlah ini urusan orang dewasa. Kau masih SMP, mana tau soal seperti ini”

“kalau begitu, oppa yang tidak sengaja melemparmu bola basket?”

Yuri eonni berhenti. “bagaimana kau bisa tau?” Hallo~ Kau tidak ingat dengan sikap anehmu setelah itu? siapa pun pasti tau kau sedang jatuh cinta, sahutku dalam hati.

“untukmu,” kata kyungsoo seraya menyodorkan sebuah surat kepada yuri eonni. Yuri eonni langsung tersenyum senang begitu membuka surat itu. “apa itu?” tanyaku.

“dia mengundangku ke pesta ulang tahunnya!” serunya senang.

Aku mengernyit. “oppa itu?”

Yuri eonni mengangguk senang. “coba lihat,” yuri eonni menyodorkan surat itu padaku. Mm… bukankah ini kekanak-kanakan? Dia sudah 21 tahun tapi membuat undangan pesta ulang tahun yang.. mm.. terlalu mencolok, kalau tidak mau dibilang kekanak-kanakan. Melihat undangannya saja aku bisa tahu bagaimana orang ini. tapi demi sopan santun, aku membaca undangan itu tanpa banyak komentar.

“jadi namanya kwon jiyoung?”

Yuri eonni mengangguk senang. “bahkan nama kami sama! dia itu sunbae yang baik, berkharisma, ahh.. pokoknya keren!”

“ohh..” aku mengangguk-angguk sok peduli. “kapan?”

“nanti malam,” jawab yuri eonni sambil melepas celemek yang dari tadi dipakainya.

“nanti malam? jam berapa? Ini kan sudah jam 7,” kataku. Aku membaca undangan itu sekali lagi.

“jam 12 malam,” jawab yuri eonni enteng. Iya benar! Jam 12 malam?! sepertinya oppa bernama kwon jiyoung ini memang sedikit tidak beres. Haaah~ cinta memang bisa membuatmu gila…

aku meninggalkan kakakku yang juga sudah mulai ikut tidak beres itu dan kembali ke kamar melanjutkan PRku. Aku membuka tirai jendela kamarku dan membiarkan angin malam masuk ke kamarku. Hari ini langit cerah. Aku bisa melihat bulan yang bersinar indah dan beberapa bintang. Ngomong-ngomong soal bintang, aku jadi ingat seseorang. dia suka sekali melihat bintang. orang yang beberapa bulan ini kerap membuat jantungku berdegup lebih kencang. aku tersenyum kecil lalu kembali duduk di depan meja belajar. Lupakan tentang bintang dan orang itu, ayo fokus sunri-ya!

“musim panas ini, apa ajumma cerewet itu tidak pulang ke Goyang?” kyungsoo tiba-tiba masuk kamarku.

“yuri eonni maksudmu? Mana aku tau, tanya saja padanya,” jawabku. Ia duduk di ujung tempat tidurku.

“noona aku pinjam penggaris..”

“ke mana lagi penggarismu?”

“ehm..”

“hilang atau patah?”

“hilang~”

“jje jje jje.. kau ini.. ini, pakai saja dulu,” kataku seraya menyodorkan penggaris padanya. ia lalu kembali ke kamarnya.

Aku membuka PR sejarahku, untuk ‘refreshing’ setelah mengerjakan PR matematika. Aigoo.. benar kata minhee. Ini banyak sekali! baiklah, hwaiting sunri-ya!

baru 5 menit berjalan dan mataku rasanya sudah berat. hoaaahmm! Ini sudah yang kesekian kalinya. Payah.. Aku merenggangkan badanku sambil menguap lebar. tiba-tiba mataku tertuju pada radioku yang sudah lama tak kusentuh. Iseng-iseng aku menekan tombol ON. Ahh.. masih berfungsi!

 

Sarangi eoridago motal geora saengakaji marayo
Nareul deo neugi jeone nadeo keugi jeone jaba julsu ijyo
(One-Shinee)

Aku langsung mematikan radio. Kenapa mereka harus memutar lagu itu sih? membuat konsentrasiku semakin buyar! Ayo fokuskan dirimu sunri-ya!! lupakan tentang orang itu sementara ini!

“noona..” kyungsoo membuka pintu kamarku. “boleh aku belajar di sini?”

“memangnya kenapa di kamarmu?”

“yuri noona berisik,” sungutnya. Kamar kyungsoo memang bersebelahan dengan yuri eonni. “memangnya kalau orang jatuh cinta itu harus seberisik itu apa?” sungutnya lagi. “noona pernah jatuh cinta?” tanyanya kemudian.

“huh? Kenapa tiba-tiba tanya begitu?”

“Cuma mau tau saja.. habis noona ke mana-mana selalu dengan minhee noona. Aku tidak pernah melihat noona dengan pria”

“memangnya kalau aku sedang dengan pria, aku harus lapor padamu?”

“tidak juga sih.. tapi noona juga tidak pernah terlihat seperti yuri noona sekarang ini..”

“kau ke sini mau menginterogasiku atau mau menumpang belajar?” aku berbalik ke arahnya.

“eh.. iya.. iya… hehehe…” kyungsoo langsung mengambil posisi.

“lagipula, memangnya orang jatuh cinta itu harus seberisik itu..” ujarku pelan.

“jadi noona sudah pernah jatuh cinta?” kyungsoo membulatkan matanya padaku.

“eh.. aku kan hanya mengulang kata-katamu..”

“dengan siapa?”

“ahh~ kau ini.. sudah cepat lanjutkan pekerjaanmu.. aku juga mau pakai..”

“dengan chanyeol hyung?”

“kenapa bawa-bawa chanyeol? dia bukan tipeku..”

“jongdae hyung?”

Aku menyodorkan bantal padanya. “kalau mau ngobrol, ngobrol saja dengannya,” kataku kesal.

“aku kan hanya bertanya.” Ia kembali berkutat dengan pekerjaannya. “paling juga dengan baekhyun hyung..” gumamnya. seketika itu aku merasa ada sesuatu aneh dengan diriku. Aku melirik kyungsoo. Entah dia sadar atau tidak, dia telah membuatku salah tingkah.

“kenapa melihatku?” tiba-tiba kyungsoo mengangkat wajahnya.

“eh.. siapa yang melihatmu.. aku sedang berpikir..” aku pura-pura menggerak-gerakkan pulpen.

“tentang baekhyun hyung?” kyungsoo tersenyum menggodaku.

“KYUNGSOO-YA!!!!”

***

Beberapa tahun kemudian…

“sunri-ya.. sepertinya aku tidak bisa pulang denganmu,” bisik minhee saat pelajaran terakhir.

“oh.. kau mau ikut ulangan susulan ya?” kataku sambil mengawasi pergerakan yunho saem.

“uhm.. nanti sepulang sekolah..”

“geurae, gwaenchanha.. kau nanti pulang dengan siapa?” tanyaku. minhee kan tidak berani pulang sendiri. “aku dijemput eonni kok.. hehe..”

“oh.. ok! Fighting minhee-ya!” bisikku.

“eheem!” suara berdehem dari yunho saem menghentikan percakapan kami.

Begitu bel berbunyi aku bergegas pulang, aku hampir mati kelaparan. sialnya, hari ini bus sangat ramai. Jadi mau tidak mau aku harus berdiri sambil menahan lapar. dan yang lebih menyebalkan, bus ini berjalan sangaaaaaatttt lama. Tau begini naik subway saja..

Sudah hampir 30 menit dan aku masih berdiri di bus ini. kebiasaanku jika naik bus ini adalah menengok ke kanan jalan, ke sebuah SMA saingan SMA ku. Bukan, bukan karena aku sinis pada SMA ini, ada alasan lain. dan akan ada perasaan aneh jika bus ini berhenti di halte yang tak jauh dari sana. kali ini aku beruntung karena sepertinya tidak ada penumpang di halte itu. satu, karena bus ini tidak akan jadi semakin penuh. Dan yang paling penting karena aku tidak mau bertemu seseorang yang bersekolah di sana, ya walaupun dia kemungkinan kecil naik bus ini.

bus ini kemudian berhenti di halte selanjutnya. aku sedikit tidak suka karena bus pasti akan bertambah penuh. untungnya hanya 1 penumpang. Tapi 1 penumpang itulah yang membuatku tak karuan. Orang itu berdiri di sampingku. sepertinya dia tidak memperhatikanku, atau pura-pura tidak memperhatikanku. Tapi aku jelas yakin, aku mengenalnya. Amat sangat mengenalnya malah. Beberapa kali aku mencuri pandang. Dia benar tidak tau aku ada di sini? aku terus memperhatikannya. sampai akhirnya bus ini hampir melewati halte di mana aku turun.

“makanya jangan melamun,” sindir sopir bus.

“joesonghae ajusshi..” kataku sambil berusaha mencari celah untuk menuju pintu, karena saking banyaknya manusia di dalam sini.

“ah.. permisi..” kataku hati-hati pada orang itu.

“oh.. ne..” katanya acuh sambil memberiku jalan. Bahkan saat aku sudah bersuara dia tetap tidak melihatku?! Sepertinya dia memang pura-pura..

***

“sakit apa?” tanyaku.

“kalau tidak salah kecelakaan,” jawab kyungsoo.

“mwo?! lalu sekarang bagaimana?”

“noona khawatir sekali,” goda kyungsoo.

“ya! sekalipun itu bukan baekhyun pun aku juga khawatir!”

“tapi sepertinya tidak parah kok,” kata kyungsoo sambil mengunyah potongan terakhir kuenya.

“memangnya kau tau darimana?”

“adiknya kan temanku sekelas.. dia saja masih masuk sekolah tadi, seperti tidak terjadi apa-apa. kalau sakitnya parah kan dia tidak mungkin masuk sekolah,” kyungsoo mengedikkan bahunya.

“hush! Kau ini!” aku melotot padanya. “tapi syukurlah kalau tidak parah..” aku menyandarkan tubuhku ke sandaran kursi.

“noona tidak mau menjenguknya?”
“eo? Sepertinya untuk beberapa hari ke depan aku tidak bisa..” aku memainkan rambutku.

“geurae..” ia kemudian menyodorkan secarik kertas padaku. Aku mengernyit. “setidaknya noona bisa tanyakan kabarnya,” katanya. aku mengambil kertas itu. ini… nomor baekhyun?

“aku kan sudah tau darimu,” aku meletakkan kertas itu.

“tapi kan tidak eksklusif.. ayolah noona..”

“sirrheo..”

“noona~”

“kenapa kau yang jadi repot sendiri sih?”

“aah~ terserah noona sajalah.. yang penting aku sudah membantu..” kyungsoo lalu pergi. Aku hanya geleng-geleng melihatnya. Anak ini aneh sekali.. atau aku yang aneh? Aku melirik kertas itu sesaat. Ahh..anni.. aku menggeleng pelan. bahkan seminggu yang lalu, saat kami bertemu di bus saja dia tidak peduli padaku. aku mengalihkan pandanganku ke novel yang kubaca.

“hey.. bukankah meja ini baru saja kubersihkan..”ujar yuri eonni yang tiba-tiba muncul. Aku hanya meliriknya acuh.

“apa susahnya sih buang sampah ke tempat sampah?” gerutunya. Orang ini kenapa lagi sih? aku masih berusaha tidak mempedulikannya, karena aku memang merasa tidak melakukan apapun yang berhubungan dengan buang sampah. “ya! aku bicara denganmu sunri-ya!” ia mengambil novelku tiba-tiba.

“ah.. eonni!”

“apanya yang ah eonni? Kalau mau buang sampah, di sudut sana sudah tersedia tempat sampah agasshi..” yuri eonni mengacung-acungkan potongan kertas yang diberikan kyungsoo padaku tadi.

“eh.. enak saja! ini bukan sampah tau!” aku merebutnya.

“oh.. kukira sampah..” katanya santai lalu melenggang pergi.  Setelah yuri eonni pergi, aku membuka potongan kertas yang disobek sembarangan itu dengan ragu. Tanya tidak ya? kalau tanya, telepon atau kirim pesan saja? aarrghh! Aku melempar kertas itu ke meja lalu memalingkan muka. aku terdiam sesaat. Tidak ada orang di sini. aku melirik kertas itu lagi. dan dalam hitungan sepersekian detik, sebelum aku berubah pikiran, aku sudah menyambarnya. Lalu segera kusalin nomor itu ke ponselku. kubuka menu pesan dan segera menuliskan kalimat seperlunya, entah itu aneh atau tidak, jelek atau bagus, pantas atau tidak, pokoknya intinya menanyakan kabarnya dan tak lupa kutulis namaku di akhir pesan. Selanjutnya, segera kutekan tombol ‘send’. Dan terakhir, menyobek kertas itu menjadi potongan-potongan kecil secepat kilat di atas tempat sampah. Aku menghela nafas panjang. Selesai!

Aku kembali ke posisi semula. Aku harap-harap cemas melirik ponselku. tidak ada pesan masuk. mungkin dia sedang istirahat. Aku beralih lagi ke novelku. Beberapa detik kemudian, aku kembali melirik ponselku. tetap tidak ada. Lalu kembali dengan novelku. Lirik ponsel, tidak ada pesan masuk, kembali dengan novel, begitu seterusnya sampai aku kelelahan. Tiba-tiba ponselku bergetar. aku segera membukanya. Aahhh~ ternyata minhee, tanya besok ada tugas apa. aku membalasnya dengan malas. lalu kembali dengan aktivitasku. Begitu terus, sampai akhirnya aku tertidur di ruang tengah. Dan esoknya aku dikejutkan oleh sebuah pesan yang masuk ke ponselku! ^^

***

“oraenmaniya..” baekhyun tersenyum padaku.

“e-eo.. oraen..maniya,” balasku tanpa menatapnya.

“kau tidak berubah ya?”

Aku tersenyum kecil. “ya, beginilah aku.. kau.. juga tidak.. banyak berubah” aku masih mengedarkan pandanganku. Sesaat kami terdiam. “aku tidak menyangka kita akan bertemu di sini,” kataku akhirnya.

“na do,” jawabnya. “kau sendiri?”

“anni.. aku pergi dengan minhee. Dia sedang ke toilet. kau?”

“ah.. ehm.. aku juga..dengan..ehm.. temanku..”

“mana?”

“ehm.. dia sedang mencari sesuatu,” katanya sambil mengedarkan pandangan. “itu dia! sunyoung-ah.. kenalkan ini temanku, sunri..” kata baekhyun. Gadis bernama sunyoung itu tersenyum padaku sambil memberi salam. “sunyoung iyeyo..”

“sunri iyeyo..” balasku sambil tersenyum canggung.

“kau sudah makan?” tanya baekhyun.

“aku baru saja sarapan..”

“kau masih sarapan jam 10?” tanya baekhyun dengan nada sedikit tinggi. Sunyoung langsung menoleh ke arahnya. “dulu, dia tidak pernah memakan bekalnya saat jam makan siang, dia selalu makan saat jam istirahat,” tambah baekhyun sambil tersenyum aneh.

Lagi-lagi aku hanya tersenyum. dan suasana pun menjadi sangat kaku. Diam-diam gadis itu menyenggol tubuh baekhyun. “oh.. sunri-ya.. mianhae, aku tidak bisa berlama-lama.. Ehm.. maksudku, aku..”

“ah.. ne.. arayo..” aku tersenyum pada sunyoung. ia membalasnya.

“sampaikan salamku untuk minhee..” kata baekhyun. Aku hanya mengangguk sambil tetap tersenyum.

“annyeong..” kata baekhyun dan gadis itu hampir bersama. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. “bangapda,” bisikku setelah mereka pergi. Tidak banyak yang kami bicarakan memang, tapi semua itu sudah cukup menjelaskan sesuatu. Sapaan dan celotehan baekhyun yang memenuhi inbox di ponsel dan emailku selama ini mungkin tidak akan kudapatkan lagi. mungkin ucapan selamat pagi dan sedikit obrolan ringan kami tadi pagi akan jadi yang terakhir. bohong jika aku bilang ini tidak menyakitkan, aku baik-baik saja, ini tidak akan berarti banyak bagiku, dan kalimat lain semacamnya. Tapi.. aku harus meyakinkan pada diriku sendiri bahwa ini tidak lebih menyakitkan daripada diomeli yuri eonni gara-gara dituduh memberantakan seisi rumah—padahal kucing manisnyalah pelakunya.

“ya~ bukankah tadi itu baekhyun?” tanya minhee yang baru datang dari toilet. Aku mengangguk.

“kalian bertemu?!” tanyanya. Aku mengangguk lagi.

“lalu?”

“mwo?”

“bagaimana ceritanya? Apa yang kalian bicarakan?”

“aneh, kaku, dan.. yah.. begitulah..” aku mengedikkan bahu sambil tersenyum pahit.

“begitulah bagaimana?” desaknya. “eeyy.. jamkanman.. gadis itu.. si-a-pa?” ia memicingkan mata.

“kau tanya aku? lalu aku tanya siapa?” sahutku.

“jangan bilang dia..”

“ah.. molla.. sudahlah.. kalau memang gadis itu benar kekasihnya, juga…tidak masalah..” aku masih berusaha tersenyum. “lagipula aku memang tidak punya hubungan khusus dengan baekhyun kan.. aku bahkan tidak pernah berkencan dengannya..”

Minhee hanya diam menatapku. “kau baik-baik saja?”

Aku menghela nafas berat. “seharusnya iya..”

“tapi, saat ini kau sedang tidak baik-baik saja, begitu maksudmu?” tebaknya. Aku hanya diam.

“sunri-ya.. aku tau siapa kau. Aku tau bagaimana hubunganmu dengan baekhyun. sudah jelas tergambar di wajahmu. kau, memang dan seharusnya, sedang tidak baik-baik saja. ayolah.. jangan membohongi dirimu sendiri,” katanya. aku masih terdiam. Minhee menghela nafas. “marahlah jika kau marah, dan bersedihlah jika..”

“untuk apa? tidak ada yang membuatku marah atau sedih..” kataku datar.

“haah~ terserah kau sajalah.. mmm.. mungkin sesekali kau boleh tidak mempercayai penglihatanmu,” ujar minhee sambil memainkan jajaran buku-buku di rak. “entah kenapa, perasaanku mengatakan bahwa mereka tidak ada hubungan. Sekalipun memang ada, kurasa tidak akan bertahan lama..” minhee mengangkat bahunya lalu tersenyum padaku.

“kau cenayang?”

“kalau tidak percaya, lihat saja beberapa bulan ke depan,” ia mengerling padaku.

Aku geleng-geleng “aigoo… neo jinjja…”

***

Sunri-ya! saengil chukahae!

Aku setengah tak percaya membaca tulisan itu. bukan, bukan karena isinya, tapi pengirimnya. Byun baekhyun? Dia masih hidup? ups! Hehe. sudah hampir setahun sejak pertemuan kami di toko buku waktu itu kami tidak pernah melakukan komunikasi via apapun. Kukira dia sudah hilang ditelan bumi.

Kehidupanku benar-benar berjalan seperti yang kubayangkan setelah itu. Komunikasi itu benar-benar hanya sampai di situ dan hidupku berjalan ‘normal’ lagi. tidak lagi membayangkan kemungkinan-kemungkinan akan mendapatkan kejutan romantis darinya. Tidak lagi sering-sering menengok ponsel atau email, sekedar melihat ada pesan darinya atau tidak. Bahkan mungkin aku sudah tidak punya perasaan padanya. aku memang tidak membuang sepenuhnya memoriku tentangnya dan hubungan yang tak biasa yang pernah ada di antara kami, karena memang aku tidak bisa. Aku hanya menguburnya sebagian, menimbunnya dengan segala kesibukanku di sekolah untuk persiapan ujian beberapa bulan lagi.

Cukup lama aku menatap layar laptopku. Kalau saja kyungsoo tidak mengagetkanku aku mungkin tidak segera mengirimkan balasannya.

Ne, gomawo.. ^^

Hanya itu. aku menghela nafas setelah menekan tombol ‘send’.

Esoknya di sekolah..

“benar kan apa yang kubilang waktu itu..” kata minhee tiba-tiba.

“soal apa?”

“soal gadis yang bersama baekhyun itu..” katanya lagi. aku mengernyit. “hubungan mereka tidak bertahan lama.. lalu baekhyun berkencan dengan entah siapa, itu juga tidak lama. Hanya 2 bulan malah.. kau masih punya kesempatan..” ia menyenggol bahuku.

ada sedikit rasa tidak suka ketika aku mendengar ‘gosip panas’ minhee. “eeyy.. kesempatan apa maksudmu?”

“hey.. ayolah.. kau menyukainya kan?”

Aku pura-pura tidak dengar. “ya! sunri-ya.. kau menyukainya kan?” ulangnya.

Aku melihat ke arahnya. Terdiam sesaat. “mmm… iya, dulunya..”

“sekarang?”

Aku mengangkat bahu. “molla..”

“kau ini bagaimana? masa’ tidak tau perasaanmu sendiri..”

“iya ya.. tapi memang seperti itu, mau bagaimana lagi, hehehe..” aku hanya menyeringai. “biarlah semua mengalir sebagaimana adanya.”

***

Sejak ucapan selamat ulang tahun yang terlambat 13 hari itu, hubunganku dan baekhyun kembali terjalin. Tapi kali ini aku lebih berhati-hati. Tidak terlalu banyak berharap. Aku hanya menganggapnya teman biasa. aku sudah kebal dengan segala macam ‘kata-kata mautnya’. Jantungku tidak berdebar sedahsyat dulu ketika bertemu dengannya. Memang masih ada debaran-debaran halus yang terasa aneh bagiku, tapi aku masih bisa mengontrolnya. Aku juga tidak lagi sesalah tingkah dulu seperti ketika minhee membicarakannya atau ketika kyungsoo menggodaku. Paling minhee hanya bilang “hey, pipimu merah tau..” bukan “kenapa kau jadi salah tingkah begitu? Aku kan hanya mengucapkan namanya..” . begitulah, sejauh ini aku menikmati semua itu.

Menikmati? Ya.. awalnya, saat semua itu masih berjalan ‘dengan sesuai’. tapi sekarang, aku sudah tidak menikmati. Halo~ sudah hampir setahun kami jadi ‘teman ngobrol yang menyenangkan’ dan bagiku waktu setahun—plus saat SMP dulu—sudah lebih dari cukup untuk sebuah kepastian hubungan kami. Bukannya aku terobsesi dengannya atau apa, tapi karena aku mulai merasa lelah. aku sudah bosan terjebak dalam permainannya.

Musim gugur akan berakhir. Aku merapatkan jaketku. “eonni, ppali..” aku berhenti, meletakkan tas belanjaan yang kutenteng lalu mengusap kedua  telapak tanganku.

“makanya bantu aku..” gerutunya.

“enak saja.. salah siapa kau belanja banyak sekali. eomma kan hanya meminta kita beli wortel, telur, lobak, sawi, dan tisu toilet saja. kau sendiri kan yang membuat tas belanjaan itu jadi beranak pinak..” omelku.

“haaah~ arasseo! Ayo jalan!” sahutnya sambil menenteng 2 tas belanjaan. “seharusnya aku tadi ajak kyungsoo saja..”

“seharusnya aku yang bilang begitu..” sahutku. “memangnya untuk apa barang sebanyak ini?”

“di ulang tahunku nanti, aku akan memasak untuk jiyoung oppa..” jawabnya sambil tersenyum.

“kau yang ulang tahun, kenapa kau yang malah repot?”

“waktu ulang tahunnya kemarin dia membuatkanku pasta..”

“dia bisa masak?”

“hhmm… rasa itu tidak terlalu penting. Yang penting adalah nilai dari masakannya..”

“aahh~ eeyy, eonni ulang tahunmu kan masih seminggu lebih, kenapa sudah belanja sekarang?”

“kan sekalian ke supermarket”

aku hanya memutar bola mataku. Entah apa yang membuat 2 manusia yang bertolak belakang itu sampai sekarang masih awet saja. kadang aku hanya geleng-geleng melihat tingkah yuri eonni yang sepertinya sudah tertular ketidakwarasan jiyoung oppa, seperti saat ini. “eonni, apa kau tidak bosan dengannya?”

“huh? Dengan jiyoung oppa maksudmu? Mm.. kadang-kadang sih, kalau dia sedang menyebalkan. Tapi kalau ingat sisi baiknya, rasanya rasa kesalku langsung hilang,” katanya sambil mengulum senyum. “memang kau tidak bosan sendirian?” tanya yuri eonni. Sendirian? Aku tersenyum getir mendengar pertanyaan konyol yuri eonni. “atau jangan-jangan, diam-diam kau sudah punya kekasih ya?”

Aku hanya mengangkat bahu sambil tersenyum. aku jadi teringat wejangan minhee, “sebenarnya hubungan kalian itu bagaimana sih? pacaran tidak, tapi kalau hanya teman, kalian sudah jelas sekali terlihat lebih dari itu. sudah setahun sunri-ya.. masih perlu pendekatan macam apa? kalian kan sudah saling mengenal, ahh.. bukan.. sangat amat saling mengenal. Kau mau mengulangi yang dulu lagi? ayolah sunri-ya.. aku yakin kau pasti juga tidak nyaman dengan semua ini kan?”  matda.. minhee benar..

“ya! kenapa malah melamun! Keretanya sudah datang, ppali sunri-ya!”

Aku duduk di tepi aliran sungai han. Hari ini angin bertiup agak kencang. Aku memandang lurus ke depan.

“mian, aku terlambat,” seseorang berdiri di sampingku. Aku menoleh dan tersenyum. “gwaenchanha..” ia kemudian duduk di sampingku. Lalu menyodorkan segelas cappuccino hangat. “hhmm…. Gomawo..”

ucapku lalu aku menghirup cappuccino itu. waah.. sepertinya enak..

“sudah lama menunggu?”

Aku menyeruput cappuccino yang dibawakannya “ehm.. ya sekitar 30 menit,” jawabku sambil tetap memandang sungai.

“oh.. jeongmal mianhae..aku membuatmu menunggu terlalu lama..”

“aahh~ aku saja yang datang lebih awal. Kau tidak terlalu terlambat kok..” aku tersenyum ke arahnya. “udara sedingin ini, kau tidak pakai syal?”

“malas..” ia menyeruput cappuccino miliknya.

“dasar kau ini! sama seperti kyungsoo..” aku mengambil syal milik kyungsoo di tas. “ini..”

“eo?”

“pakailah. Ini milik kyungsoo. Dia juga sering malas pakai syal. Kalau tidak diingatkan pasti tidak akan memakainya, padahal sudah tahu udara sedingin ini..” kataku. ia hanya menatap syal itu. “kau tidak sedang menungguku memakaikannya untukmu kan?” aku tertawa kecil.

ia ikut tertawa.“kau bisa membaca pikiranku ya..” ia melilitkan syal itu ke lehernya.

Aku hanya geleng-geleng kepala. “memangnya kau belum kapok? saat semua orang sedang asyik menikmati musim gugur, kau malah demam..”

ia hanya menyeringai dengan wajah tanpa dosa. “bagaimana kalau adikmu menanyakannya?”

“dia mana pernah peduli. Dia kan cerobohnya luar biasa. dia tidak akan menanyakan hal-hal seperti ini kecuali kalau perlu..” aku tersenyum geli mengingat tingkah kyungsoo.

“memangnya kau tidak ceroboh?” ia mengeluarkan kunci sepedaku dari sakunya.

“hah?!” aku buru-buru merogoh sakuku. “haaah~ gomawo.. untung kau menemukannya..” aku meraih kunciku lalu memasukkannya ke saku.

“kau tidak mencabut kuncimu tau..”

“hehehe.. kurasa ceroboh itu keturunan..” aku hanya menyeringai dan kembali memandang aliran sungai han yang tenang sambil sesekali menyeruput cappucinoku. Untuk beberapa saat kami hanya diam. Aahh… seharusnya tidak seperti ini. ada hal yang harus kubicarakan dengannya. Aku meliriknya diam-diam. Ia masih asyik memandangi sungai han. Aku mengetuk-ngetuk gelas cappucinoku sambil sesekali mengedarkan pandangan. tapi, aku harus mengatakannya sekarang.

“sunri-ya..”

Aku menoleh. “eo?”

Ia tampak menatapku dalam. “aku mau minta maaf..” katanya.  aku mengernyit. “aku tau, selama ini aku sudah sering membuatmu tidak nyaman. Tapi, betapa bodohnya aku, untuk minta maaf saja aku tidak berani.” Ia tersenyum kecut.

“tidak perlu minta maaf..” kataku tiba-tiba.

Ia menoleh. “aku bisa mengerti kalau kau belum bisa menerimanya..”

“kubilang kau tidak perlu minta maaf,” ulangku. “mungkin memang seperti inilah seharusnya..” aku sedikit merasa ganjil dengan kalimat yang kuucapkan barusan. Tidak perlu minta maaf? Memang harusnya seperti ini? kalimat macam apa itu? bukankah selama ini aku merasa semuanya serba abu-abu? Bukankah aku selama ini sudah cukup ‘tersiksa’ dengan segala kelakuannya yang seolah-olah mempermainkanku? Bukankah aku memang perlu kejelasan tentang hubunganku dengannya? Pacaran tidak, teman biasa juga tidak. Disebut apa itu? mana kalimat bernada kesal yang sudah kususun selama ini? bukankah ini saat yang tepat untuk mengungkapkan itu?

“sunri-ya..” ia menghadapku.

“sudah kubilang, jangan minta maaf lagi. tidak ada yang perlu dimaafkan, baekhyun-ah..” aku menepuk lengannya, berusaha sewajar mungkin. Walaupun sebenarnya di dalam diriku sedang terjadi pertentangan yang hebat.

Ia menghela nafas. “gomawo..” ia tersenyum tipis. “sunri-ya..”

“hm?”

“bolehkah aku mengajukan sebuah permintaan?”

“GUK!” Seekor anak anjing tiba-tiba menghampiri kami. “oh.. anjing siapa ini?”

“sepertinya dia tersesat..” baekhyun menunjukkan kalung anjing bertuliskan ‘lilo’ itu.

“aigoo… kasian sekali.. jadi namamu lilo..” aku mengelus bulu putih anak anjing itu. “pemiliknya pasti mencarinya,” kataku.

baekhyun mengangguk. “ayo kita..”

“lilo! Lilo! Aahh! Pergi ke mana dia?” terdengar seorang gadis kecil memanggil nama anjing ini.

“ayo lilo, kau harus pulang,” kata baekhyun sambil menggendong anjing kecil itu. aku mengekor di belakangnya.

“omo! Lilo!” seru gadis itu begitu melihat kami membawa anjing kecilnya. Anjing itu kini sudah beralih di gendongan si gadis kecil. “sudah kubilang, kalau main jangan jauh-jauh.. kau nakal sekali..” omelnya. Aku tertawa geli. Mana lilo tau kalau dia sedang dimarahi? “gomawo oppa.. gomawo eonni..” ucap gadis kecil itu.

“ne.. lain kali hati-hati ya..” aku tersenyum lebar.

“kau dengar itu lilo?” gadis kecil itu menatap anjingnya, membuatku ingin tertawa. Maksudku kan bicara dengannya, mana lilo tau soal hati-hati kalau main? haha.. “lilo ayo ucapkan terima kasih..” kata gadis kecil itu.

“GUK!” kuanggap itu sebagai ucapan terima kasihnya.

“anak pintar..” gadis kecil itu mengelus anjingnya. “geurae, aku pergi dulu.. sekali lagi terima kasih..” ucapnya sambil tersenyum.

“ne.. annyeong lilo..” baekhyun mengelus bulu anjing itu sebelum mereka pergi. “oh ya!” tiba-tiba gadis itu berbalik. Gadis itu menghampiri kami. Ia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan 2 lembar tiket. “aku memenangkan 2 buah tiket bioskop,” ia menyodorkannya ke kami. “karena aku tidak suka filmnya dan tidak tau harus menonton dengan siapa, kalian bisa memakainya. Ini juga sebagai ucapan terima kasihku. Kuharap kalian mau menerimanya,” katanya polos.

Aku dan baekhyun saling berpandangan. Ia mengedikkan bahu sambil tersenyum. “geurae.. jeongmal gomawo..”

Gadis kecil itu tersenyum lega. “geurae.. annyeonghi gaseyo..” katanya lalu pergi. Sekarang tinggal kami berdua dan 2 tiket itu. “kau mau nonton?” tanyanya.

“aku tidak terlalu suka film romantis..” kataku. kau bisa nonton dengan yang lain, kataku dalam hati.

“lalu mau diapakan ini?”

“iya.. sebenarnya sayang juga kalau tidak dipakai..” kataku. “kalau kau tidak mau memakainya, biar kuberikan pada yuri eonni. Dia pasti mau memakainya..”

Tiba-tiba ekspresinya berubah serius. “sunri-ya..”

“e-eo?”

“bisakah kita mulai lagi dari awal?”
aku tertegun mendengarnya. Kenapa dia mendadak mengubah topic pembicaraan? “a-apa maksudmu?”

“ayolah sunri-ya.. kau tau kan apa yang sedang kubicarakan..”

Aku terdiam. Ya, aku memang tau, aku hanya pura-pura tidak tau. “mulai dari awal?” gumamku. Aku menunduk lalu menggeleng lemah. “kita tidak bisa kembali ke masa lalu..” aku mengangkat wajahku. “aku sudah mengenalmu, kau juga sudah mengenalku. Bagaimana cara memulainya?” ujarku. Ia terdiam.

“kau tau, sebenarnya aku juga ingin mengatakan sesuatu. Ya, aku memang kesal. bohong jika aku bilang aku bisa menerima permintaan maafmu,” aku memberanikan diri menatapnya. “tapi aku juga bohong jika aku bilang aku tidak bisa memaafkanmu. Entah kenapa aku tidak pernah bisa marah padamu, aku tidak bisa tidak memaafkanmu. Aku tidak bisa lakukan itu..” aku berhenti sejenak. “hubungan ini terlalu rumit bagiku. Semua serba menggantung. Aku seperti berada dalam permainan labirin. Mencoba setiap labirin untuk dapat menemukan jalan keluar tanpa petunjuk apapun. Atau mungin..” aku mengalihkan pandanganku, rasanya aku sudah tidak tahan melihat matanya yang menatapku begitu dalam. “aku yang tidak bisa membaca petunjuk itu..”

“tapi aku sudah terlanjur terbiasa dalam kerumitan ini..” aku tersenyum pahit. “baekhyun-ah.. apa yang kau inginkan jika kita bisa mulai dari awal lagi?” aku balik bertanya.

Baekhyun memegang kedua pergelangan tanganku “aku akan memperbaiki semuanya, ini… juga terlalu rumit bagiku. aku terlalu takut memulainya. Jika saja aku mengatakan perasaanku padamu dari awal, keadaan tidak akan jadi sesulit ini. kau tidak akan.. terluka..” ia mengalihkan  pandangan dariku. “aku tidak sungguh-sungguh menyukai gadis-gadis itu.. tapi aku sungguh tidak bermaksud mempermainkan mereka”

Aku sedikit terkejut mendengar itu. tidak pernah kubayangkan dia melakukan itu pada gadis lain. Kalau sampai mereka tau, tentu mereka akan sangat terluka.

“kau tak perlu merasa bersalah, aku bukannya belum bisa menerima permintaan maafmu. Aku hanya belum bisa berdamai dengan egoku..” ucapku. “walaupun aku sering berharap kita dapat melangkah lebih jauh dari ini, tapi kurasa..aku tidak sanggup melakukannya.. mianhae..” aku melepas pegangannya perlahan, namun tiba-tiba ia menahannya.

“mianhae sun..”

Aku meletakkan telunjukku di depan bibirnya. “sudah kubilang kau tidak perlu minta maaf. Ini bukan salahmu sepenuhnya..” aku mencoba untuk tersenyum padanya. “maaf kalau aku selalu bersikap menyebalkan atau merepotkanmu selama ini..”

“kita.. masih.. bisa… bertemu kan?” tanyanya lirih.

Aku terdiam sejenak lalu mengangguk kecil. “tentu saja, kenapa tidak? Kita kan tidak sedang bermusuhan.. kita masih bisa bertemu..”

“kalau aku sakit, apa kau masih menjengukku seperti kemarin?”

“jangan pernah berpikiran seperti itu! aku tidak suka melihatmu sakit apalagi sampai terbaring di rumah sakit! kau harus menjaga kesehatanmu. jangan ceroboh dengan tubuhmu..”

Ia hanya menatapku dalam. Jika tidak dalam situasi seperti ini, tatapan mata itu akan terasa begitu hangat. Tapi sekarang ini tatapan itu serasa menikamku dalam-dalam. Sungguh, sebenarnya dalam hati kecilku aku tidak tega melihatnya seperti ini. tapi, dengan semua yang telah kualami, hatiku berkata aku tidak akan sanggup bertahan lebih lama lagi. perlahan, aku melepaskan pegangannya lagi, sebelum terlalu banyak pikiran kontradiktif lain yang membuatku semakin gamang. kali ini dia tidak menahanku. “aku pulang dulu, baekhyun-ah..”

“kutemani kau pulang..” katanya tertahan.

Aku menggeleng lalu menunjukkan kunci sepedaku sambil berusaha tersenyum. sekilas aku melihat sepedanya yang terparkir di sebelah sepedaku.

“kita bisa pulang bersama..”

“kumohon.. tidak untuk saat ini..” kataku. “mianhae..” suaraku mulai terdengar sedikit bergetar.

Baekhyun mengangguk. “arayo..” ia tersenyum tipis. “josimhae..”

Aku melangkah menuju sepedaku tanpa berani menatapnya lagi. aku tidak mau goyah karena tatapan itu. atau karena senyum itu. juga karena kata-kata yang keluar darinya. dadaku sudah terasa sesak.Aku berusaha secepat mungkin meninggalkan tempat itu.

Baekhyun POV

Mataku terpaku melihatnya, bahkan sampai dia lenyap dari pandanganku. Sedikit tak percaya melihat sunri bersikap seperti itu. dia memang tidak menangis, tapi aku bisa merasakan dia begitu terluka. dan itu karenaku, sekalipun dia bilang ini bukan salahku. Kuakui, memang semua ini terlalu rumit, terlalu melelahkan baginya. Aku tidak pernah bilang padanya secara langsung kalau aku menyukainya, aku membutuhkannya, aku takut kehilangannya, atau kalimat lain sejenisnya. Aku terlalu takut, hanya itu alasannya. Aku baru sadar aku telah mempermainkannya dengan apa yang disebut perhatian. Ya, aku selalu memberikan perhatian yang lebih padanya, lebih daripada gadis-gadis lain yang pernah singgah dalam hidupku tanpa memberinya kepastian. Sejak dulu, saat perasaan itu pertama kali muncul sampai sekarang ini. dia begitu berbeda sehingga membuatku takut mengatakan hal itu, aku takut dengan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi.

Mianhe sunri-ya..

Kuharap kelak aku dapat menepati janjiku padamu, aku akan memperbaiki semua ini, aku akan yang membuatmu bahagia. Aku akan menunggu sampai kau bisa berdamai dengan egomu, sunri-ya..

-cinta itu seperti pisau. Salah sedikit menggunakannya, dia bisa melukaimu. Juga sebaliknya, jika kau dapat menggunakannya dengan benar, dia akan memudahkanmu-

 

THE END

Main Cast : EXO Byun Baekhyun

Park Sun Ri (OC)

 

Support Cast: Do Kyung Soo (EXO)

Kwon Yuri (SNSD)

Park Sun Young (f(x))

Choi Minhee (OC)

and Other cast

 

Genre:  Romance

 

Summary: kau selalu tahu jalan pulang ke rumah, hanya itu.

Hope you’ll enjoy it.. dan jangan lupa RCL! Kritik dan saran yang membangun sangat ditunggu.. ^^

***

Aku menghela nafas, menatap PR matematikaku. Stuck! Kalau otakku mesin, mungkin sudah mengeluarkan asap saking kerasnya bekerja. Aku melirik jam. Eomma belum pulang, ia akan pulang terlambat malam ini. Kalau appa sih, sudah biasa jam segini belum pulang. jadi di rumah hanya ada kyungsoo, aku, dan yuri eonni.

Aku merenggangkan tubuhku lalu beranjak dari meja belajar. Aku berjalan keluar kamar. Tiba-tiba.. PYAAARRR!! Aku segera berlari turun. Pasti kyungsoo! Kyungsoo kan punya ‘kekuatan istimewa’. 60% barang yang disentuhnya kemungkinan akan rusak, pecah, cacat, atau sejenisnya, alias dia sangat ceroboh. Apa yang pecah kali ini? semoga bukan guci antic milik appa.. atau hiasan keramik eomma.. atau bingkai foto kelulusan SD-ku.

“kyungsoo-ya!” pekik yuri eonni. Yuri eonni tampak berkacak pinggang dan kyungsoo hanya melihat ke bawah, ke arah pecahan gelas yang memisahkan mereka berdua.

“sudah kubilang hati-hati!” seru yuri eonni.

“tapi gelas itu tidak sengaja terlepas,” kyungsoo membela diri.

“itu karena kau tidak hati-hati!”

“aku sudah hati-hati, tapi kakiku terbentur kursi”

“itu artinya kau tidak hati-hati!” omel yuri eonni. Segala hal harus sempurna di mata yuri eonni, kakak sepupuku. Dia adalah putri tunggal bibiku yang tinggal di Goyang. orang tuaku sudah menganggapnya sebagai anak tertua mereka. Yuri eonni adalah seorang perfeksionis dan higienis. Dan bibikulah yang bertanggung jawab atas sifat tersebut. Sifat itu sebenarnya juga ada di ibuku, tapi untungnya tidak separah bibiku dan anaknya ini—mungkin karena sudah beradaptasi dengan sifat appa yang ceroboh. jadi bisa dibayangkan kalau kyungsoo yang ceroboh digabung dengan yuri eonni yang perfeksionis.. haah~

Aku melihat ke arah kyungsoo. Bahunya naik-turun dan wajahnya cemberut. Aku akhirnya berinisiatif memunguti pecahan gelas yang besar-besar. Ini tidak akan selesai kalau kalian berdua hanya saling menatap dan adu mulut! batinku. Yuri eonni mendesis kesal lalu membuang muka dan mulai membantuku

Kyungsoo ikut berjongkok memunguti pecahan gelas. Aku menahan kakinya. “pakai sandal,” aku menggerakkan kepalaku ke arah sandal rumah yang ada di dekat dapur. Ia diam sejenak menatapku lalu bergegas memakai sandal. Yuri eonni mengambil vacuum cleaner dan membersihkan serpihan-serpihan gelas sambil terus menggerutu. Pemandangan seperti ini sudah biasa kulihat. Kyungsoo berbuat kesalahan, yuri eonni mengomel, kyungsoo membantah, yuri eonni membereskan kesalahan kyungsoo sambil menggerutu, kyungsoo ikut membereskan kesalahannya dengan cemberut. Dan aku? Aku adalah penonton yang baik.

“ah ya… sunri-ya.. tolong keluarkan kueku dari oven,” kata yuri eonni.

“ne..” aku beranjak menuju oven.

DING! DONG! Bel berbunyi. Siapa itu? “kyungsoo-ya coba lihat siapa di luar,” suruhku seraya mengeluarkan kue dari oven. Hmm.. baunya harum sekali.

“eits!” yuri eonni menepis tanganku yang hendak menyentuh kue itu. “ini bukan untukmu”

“untuk siapa?”

“anak kecil tidak perlu tau,” jawabnya sambil menyusun toping.

“untuk kekasihmu?” tebakku.

Ia melirikku sebentar lalu kembali menatap kue itu sambil senyum-senyum. “oppa yang pernah mengantarmu itu?”

“maksudmu taecyeon? Tentu saja bukan! Sudahlah ini urusan orang dewasa. Kau masih SMP, mana tau soal seperti ini”

“kalau begitu, oppa yang tidak sengaja melemparmu bola basket?”

Yuri eonni berhenti. “bagaimana kau bisa tau?” Hallo~ Kau tidak ingat dengan sikap anehmu setelah itu? siapa pun pasti tau kau sedang jatuh cinta, sahutku dalam hati.

“untukmu,” kata kyungsoo seraya menyodorkan sebuah surat kepada yuri eonni. Yuri eonni langsung tersenyum senang begitu membuka surat itu. “apa itu?” tanyaku.

“dia mengundangku ke pesta ulang tahunnya!” serunya senang.

Aku mengernyit. “oppa itu?”

Yuri eonni mengangguk senang. “coba lihat,” yuri eonni menyodorkan surat itu padaku. Mm… bukankah ini kekanak-kanakan? Dia sudah 21 tahun tapi membuat undangan pesta ulang tahun yang.. mm.. terlalu mencolok, kalau tidak mau dibilang kekanak-kanakan. Melihat undangannya saja aku bisa tahu bagaimana orang ini. tapi demi sopan santun, aku membaca undangan itu tanpa banyak komentar.

“jadi namanya kwon jiyoung?”

Yuri eonni mengangguk senang. “bahkan nama kami sama! dia itu sunbae yang baik, berkharisma, ahh.. pokoknya keren!”

“ohh..” aku mengangguk-angguk sok peduli. “kapan?”

“nanti malam,” jawab yuri eonni sambil melepas celemek yang dari tadi dipakainya.

“nanti malam? jam berapa? Ini kan sudah jam 7,” kataku. Aku membaca undangan itu sekali lagi.

“jam 12 malam,” jawab yuri eonni enteng. Iya benar! Jam 12 malam?! sepertinya oppa bernama kwon jiyoung ini memang sedikit tidak beres. Haaah~ cinta memang bisa membuatmu gila…

aku meninggalkan kakakku yang juga sudah mulai ikut tidak beres itu dan kembali ke kamar melanjutkan PRku. Aku membuka tirai jendela kamarku dan membiarkan angin malam masuk ke kamarku. Hari ini langit cerah. Aku bisa melihat bulan yang bersinar indah dan beberapa bintang. Ngomong-ngomong soal bintang, aku jadi ingat seseorang. dia suka sekali melihat bintang. orang yang beberapa bulan ini kerap membuat jantungku berdegup lebih kencang. aku tersenyum kecil lalu kembali duduk di depan meja belajar. Lupakan tentang bintang dan orang itu, ayo fokus sunri-ya!

“musim panas ini, apa ajumma cerewet itu tidak pulang ke Goyang?” kyungsoo tiba-tiba masuk kamarku.

“yuri eonni maksudmu? Mana aku tau, tanya saja padanya,” jawabku. Ia duduk di ujung tempat tidurku.

“noona aku pinjam penggaris..”

“ke mana lagi penggarismu?”

“ehm..”

“hilang atau patah?”

“hilang~”

“jje jje jje.. kau ini.. ini, pakai saja dulu,” kataku seraya menyodorkan penggaris padanya. ia lalu kembali ke kamarnya.

Aku membuka PR sejarahku, untuk ‘refreshing’ setelah mengerjakan PR matematika. Aigoo.. benar kata minhee. Ini banyak sekali! baiklah, hwaiting sunri-ya!

baru 5 menit berjalan dan mataku rasanya sudah berat. hoaaahmm! Ini sudah yang kesekian kalinya. Payah.. Aku merenggangkan badanku sambil menguap lebar. tiba-tiba mataku tertuju pada radioku yang sudah lama tak kusentuh. Iseng-iseng aku menekan tombol ON. Ahh.. masih berfungsi!

 

Sarangi eoridago motal geora saengakaji marayo
Nareul deo neugi jeone nadeo keugi jeone jaba julsu ijyo
(One-Shinee)

Aku langsung mematikan radio. Kenapa mereka harus memutar lagu itu sih? membuat konsentrasiku semakin buyar! Ayo fokuskan dirimu sunri-ya!! lupakan tentang orang itu sementara ini!

“noona..” kyungsoo membuka pintu kamarku. “boleh aku belajar di sini?”

“memangnya kenapa di kamarmu?”

“yuri noona berisik,” sungutnya. Kamar kyungsoo memang bersebelahan dengan yuri eonni. “memangnya kalau orang jatuh cinta itu harus seberisik itu apa?” sungutnya lagi. “noona pernah jatuh cinta?” tanyanya kemudian.

“huh? Kenapa tiba-tiba tanya begitu?”

“Cuma mau tau saja.. habis noona ke mana-mana selalu dengan minhee noona. Aku tidak pernah melihat noona dengan pria”

“memangnya kalau aku sedang dengan pria, aku harus lapor padamu?”

“tidak juga sih.. tapi noona juga tidak pernah terlihat seperti yuri noona sekarang ini..”

“kau ke sini mau menginterogasiku atau mau menumpang belajar?” aku berbalik ke arahnya.

“eh.. iya.. iya… hehehe…” kyungsoo langsung mengambil posisi.

“lagipula, memangnya orang jatuh cinta itu harus seberisik itu..” ujarku pelan.

“jadi noona sudah pernah jatuh cinta?” kyungsoo membulatkan matanya padaku.

“eh.. aku kan hanya mengulang kata-katamu..”

“dengan siapa?”

“ahh~ kau ini.. sudah cepat lanjutkan pekerjaanmu.. aku juga mau pakai..”

“dengan chanyeol hyung?”

“kenapa bawa-bawa chanyeol? dia bukan tipeku..”

“jongdae hyung?”

Aku menyodorkan bantal padanya. “kalau mau ngobrol, ngobrol saja dengannya,” kataku kesal.

“aku kan hanya bertanya.” Ia kembali berkutat dengan pekerjaannya. “paling juga dengan baekhyun hyung..” gumamnya. seketika itu aku merasa ada sesuatu aneh dengan diriku. Aku melirik kyungsoo. Entah dia sadar atau tidak, dia telah membuatku salah tingkah.

“kenapa melihatku?” tiba-tiba kyungsoo mengangkat wajahnya.

“eh.. siapa yang melihatmu.. aku sedang berpikir..” aku pura-pura menggerak-gerakkan pulpen.

“tentang baekhyun hyung?” kyungsoo tersenyum menggodaku.

“KYUNGSOO-YA!!!!”

***

Beberapa tahun kemudian…

“sunri-ya.. sepertinya aku tidak bisa pulang denganmu,” bisik minhee saat pelajaran terakhir.

“oh.. kau mau ikut ulangan susulan ya?” kataku sambil mengawasi pergerakan yunho saem.

“uhm.. nanti sepulang sekolah..”

“geurae, gwaenchanha.. kau nanti pulang dengan siapa?” tanyaku. minhee kan tidak berani pulang sendiri. “aku dijemput eonni kok.. hehe..”

“oh.. ok! Fighting minhee-ya!” bisikku.

“eheem!” suara berdehem dari yunho saem menghentikan percakapan kami.

Begitu bel berbunyi aku bergegas pulang, aku hampir mati kelaparan. sialnya, hari ini bus sangat ramai. Jadi mau tidak mau aku harus berdiri sambil menahan lapar. dan yang lebih menyebalkan, bus ini berjalan sangaaaaaatttt lama. Tau begini naik subway saja..

Sudah hampir 30 menit dan aku masih berdiri di bus ini. kebiasaanku jika naik bus ini adalah menengok ke kanan jalan, ke sebuah SMA saingan SMA ku. Bukan, bukan karena aku sinis pada SMA ini, ada alasan lain. dan akan ada perasaan aneh jika bus ini berhenti di halte yang tak jauh dari sana. kali ini aku beruntung karena sepertinya tidak ada penumpang di halte itu. satu, karena bus ini tidak akan jadi semakin penuh. Dan yang paling penting karena aku tidak mau bertemu seseorang yang bersekolah di sana, ya walaupun dia kemungkinan kecil naik bus ini.

bus ini kemudian berhenti di halte selanjutnya. aku sedikit tidak suka karena bus pasti akan bertambah penuh. untungnya hanya 1 penumpang. Tapi 1 penumpang itulah yang membuatku tak karuan. Orang itu berdiri di sampingku. sepertinya dia tidak memperhatikanku, atau pura-pura tidak memperhatikanku. Tapi aku jelas yakin, aku mengenalnya. Amat sangat mengenalnya malah. Beberapa kali aku mencuri pandang. Dia benar tidak tau aku ada di sini? aku terus memperhatikannya. sampai akhirnya bus ini hampir melewati halte di mana aku turun.

“makanya jangan melamun,” sindir sopir bus.

“joesonghae ajusshi..” kataku sambil berusaha mencari celah untuk menuju pintu, karena saking banyaknya manusia di dalam sini.

“ah.. permisi..” kataku hati-hati pada orang itu.

“oh.. ne..” katanya acuh sambil memberiku jalan. Bahkan saat aku sudah bersuara dia tetap tidak melihatku?! Sepertinya dia memang pura-pura..

***

“sakit apa?” tanyaku.

“kalau tidak salah kecelakaan,” jawab kyungsoo.

“mwo?! lalu sekarang bagaimana?”

“noona khawatir sekali,” goda kyungsoo.

“ya! sekalipun itu bukan baekhyun pun aku juga khawatir!”

“tapi sepertinya tidak parah kok,” kata kyungsoo sambil mengunyah potongan terakhir kuenya.

“memangnya kau tau darimana?”

“adiknya kan temanku sekelas.. dia saja masih masuk sekolah tadi, seperti tidak terjadi apa-apa. kalau sakitnya parah kan dia tidak mungkin masuk sekolah,” kyungsoo mengedikkan bahunya.

“hush! Kau ini!” aku melotot padanya. “tapi syukurlah kalau tidak parah..” aku menyandarkan tubuhku ke sandaran kursi.

“noona tidak mau menjenguknya?”
“eo? Sepertinya untuk beberapa hari ke depan aku tidak bisa..” aku memainkan rambutku.

“geurae..” ia kemudian menyodorkan secarik kertas padaku. Aku mengernyit. “setidaknya noona bisa tanyakan kabarnya,” katanya. aku mengambil kertas itu. ini… nomor baekhyun?

“aku kan sudah tau darimu,” aku meletakkan kertas itu.

“tapi kan tidak eksklusif.. ayolah noona..”

“sirrheo..”

“noona~”

“kenapa kau yang jadi repot sendiri sih?”

“aah~ terserah noona sajalah.. yang penting aku sudah membantu..” kyungsoo lalu pergi. Aku hanya geleng-geleng melihatnya. Anak ini aneh sekali.. atau aku yang aneh? Aku melirik kertas itu sesaat. Ahh..anni.. aku menggeleng pelan. bahkan seminggu yang lalu, saat kami bertemu di bus saja dia tidak peduli padaku. aku mengalihkan pandanganku ke novel yang kubaca.

“hey.. bukankah meja ini baru saja kubersihkan..”ujar yuri eonni yang tiba-tiba muncul. Aku hanya meliriknya acuh.

“apa susahnya sih buang sampah ke tempat sampah?” gerutunya. Orang ini kenapa lagi sih? aku masih berusaha tidak mempedulikannya, karena aku memang merasa tidak melakukan apapun yang berhubungan dengan buang sampah. “ya! aku bicara denganmu sunri-ya!” ia mengambil novelku tiba-tiba.

“ah.. eonni!”

“apanya yang ah eonni? Kalau mau buang sampah, di sudut sana sudah tersedia tempat sampah agasshi..” yuri eonni mengacung-acungkan potongan kertas yang diberikan kyungsoo padaku tadi.

“eh.. enak saja! ini bukan sampah tau!” aku merebutnya.

“oh.. kukira sampah..” katanya santai lalu melenggang pergi.  Setelah yuri eonni pergi, aku membuka potongan kertas yang disobek sembarangan itu dengan ragu. Tanya tidak ya? kalau tanya, telepon atau kirim pesan saja? aarrghh! Aku melempar kertas itu ke meja lalu memalingkan muka. aku terdiam sesaat. Tidak ada orang di sini. aku melirik kertas itu lagi. dan dalam hitungan sepersekian detik, sebelum aku berubah pikiran, aku sudah menyambarnya. Lalu segera kusalin nomor itu ke ponselku. kubuka menu pesan dan segera menuliskan kalimat seperlunya, entah itu aneh atau tidak, jelek atau bagus, pantas atau tidak, pokoknya intinya menanyakan kabarnya dan tak lupa kutulis namaku di akhir pesan. Selanjutnya, segera kutekan tombol ‘send’. Dan terakhir, menyobek kertas itu menjadi potongan-potongan kecil secepat kilat di atas tempat sampah. Aku menghela nafas panjang. Selesai!

Aku kembali ke posisi semula. Aku harap-harap cemas melirik ponselku. tidak ada pesan masuk. mungkin dia sedang istirahat. Aku beralih lagi ke novelku. Beberapa detik kemudian, aku kembali melirik ponselku. tetap tidak ada. Lalu kembali dengan novelku. Lirik ponsel, tidak ada pesan masuk, kembali dengan novel, begitu seterusnya sampai aku kelelahan. Tiba-tiba ponselku bergetar. aku segera membukanya. Aahhh~ ternyata minhee, tanya besok ada tugas apa. aku membalasnya dengan malas. lalu kembali dengan aktivitasku. Begitu terus, sampai akhirnya aku tertidur di ruang tengah. Dan esoknya aku dikejutkan oleh sebuah pesan yang masuk ke ponselku! ^^

***

“oraenmaniya..” baekhyun tersenyum padaku.

“e-eo.. oraen..maniya,” balasku tanpa menatapnya.

“kau tidak berubah ya?”

Aku tersenyum kecil. “ya, beginilah aku.. kau.. juga tidak.. banyak berubah” aku masih mengedarkan pandanganku. Sesaat kami terdiam. “aku tidak menyangka kita akan bertemu di sini,” kataku akhirnya.

“na do,” jawabnya. “kau sendiri?”

“anni.. aku pergi dengan minhee. Dia sedang ke toilet. kau?”

“ah.. ehm.. aku juga..dengan..ehm.. temanku..”

“mana?”

“ehm.. dia sedang mencari sesuatu,” katanya sambil mengedarkan pandangan. “itu dia! sunyoung-ah.. kenalkan ini temanku, sunri..” kata baekhyun. Gadis bernama sunyoung itu tersenyum padaku sambil memberi salam. “sunyoung iyeyo..”

“sunri iyeyo..” balasku sambil tersenyum canggung.

“kau sudah makan?” tanya baekhyun.

“aku baru saja sarapan..”

“kau masih sarapan jam 10?” tanya baekhyun dengan nada sedikit tinggi. Sunyoung langsung menoleh ke arahnya. “dulu, dia tidak pernah memakan bekalnya saat jam makan siang, dia selalu makan saat jam istirahat,” tambah baekhyun sambil tersenyum aneh.

Lagi-lagi aku hanya tersenyum. dan suasana pun menjadi sangat kaku. Diam-diam gadis itu menyenggol tubuh baekhyun. “oh.. sunri-ya.. mianhae, aku tidak bisa berlama-lama.. Ehm.. maksudku, aku..”

“ah.. ne.. arayo..” aku tersenyum pada sunyoung. ia membalasnya.

“sampaikan salamku untuk minhee..” kata baekhyun. Aku hanya mengangguk sambil tetap tersenyum.

“annyeong..” kata baekhyun dan gadis itu hampir bersama. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. “bangapda,” bisikku setelah mereka pergi. Tidak banyak yang kami bicarakan memang, tapi semua itu sudah cukup menjelaskan sesuatu. Sapaan dan celotehan baekhyun yang memenuhi inbox di ponsel dan emailku selama ini mungkin tidak akan kudapatkan lagi. mungkin ucapan selamat pagi dan sedikit obrolan ringan kami tadi pagi akan jadi yang terakhir. bohong jika aku bilang ini tidak menyakitkan, aku baik-baik saja, ini tidak akan berarti banyak bagiku, dan kalimat lain semacamnya. Tapi.. aku harus meyakinkan pada diriku sendiri bahwa ini tidak lebih menyakitkan daripada diomeli yuri eonni gara-gara dituduh memberantakan seisi rumah—padahal kucing manisnyalah pelakunya.

“ya~ bukankah tadi itu baekhyun?” tanya minhee yang baru datang dari toilet. Aku mengangguk.

“kalian bertemu?!” tanyanya. Aku mengangguk lagi.

“lalu?”

“mwo?”

“bagaimana ceritanya? Apa yang kalian bicarakan?”

“aneh, kaku, dan.. yah.. begitulah..” aku mengedikkan bahu sambil tersenyum pahit.

“begitulah bagaimana?” desaknya. “eeyy.. jamkanman.. gadis itu.. si-a-pa?” ia memicingkan mata.

“kau tanya aku? lalu aku tanya siapa?” sahutku.

“jangan bilang dia..”

“ah.. molla.. sudahlah.. kalau memang gadis itu benar kekasihnya, juga…tidak masalah..” aku masih berusaha tersenyum. “lagipula aku memang tidak punya hubungan khusus dengan baekhyun kan.. aku bahkan tidak pernah berkencan dengannya..”

Minhee hanya diam menatapku. “kau baik-baik saja?”

Aku menghela nafas berat. “seharusnya iya..”

“tapi, saat ini kau sedang tidak baik-baik saja, begitu maksudmu?” tebaknya. Aku hanya diam.

“sunri-ya.. aku tau siapa kau. Aku tau bagaimana hubunganmu dengan baekhyun. sudah jelas tergambar di wajahmu. kau, memang dan seharusnya, sedang tidak baik-baik saja. ayolah.. jangan membohongi dirimu sendiri,” katanya. aku masih terdiam. Minhee menghela nafas. “marahlah jika kau marah, dan bersedihlah jika..”

“untuk apa? tidak ada yang membuatku marah atau sedih..” kataku datar.

“haah~ terserah kau sajalah.. mmm.. mungkin sesekali kau boleh tidak mempercayai penglihatanmu,” ujar minhee sambil memainkan jajaran buku-buku di rak. “entah kenapa, perasaanku mengatakan bahwa mereka tidak ada hubungan. Sekalipun memang ada, kurasa tidak akan bertahan lama..” minhee mengangkat bahunya lalu tersenyum padaku.

“kau cenayang?”

“kalau tidak percaya, lihat saja beberapa bulan ke depan,” ia mengerling padaku.

Aku geleng-geleng “aigoo… neo jinjja…”

***

Sunri-ya! saengil chukahae!

Aku setengah tak percaya membaca tulisan itu. bukan, bukan karena isinya, tapi pengirimnya. Byun baekhyun? Dia masih hidup? ups! Hehe. sudah hampir setahun sejak pertemuan kami di toko buku waktu itu kami tidak pernah melakukan komunikasi via apapun. Kukira dia sudah hilang ditelan bumi.

Kehidupanku benar-benar berjalan seperti yang kubayangkan setelah itu. Komunikasi itu benar-benar hanya sampai di situ dan hidupku berjalan ‘normal’ lagi. tidak lagi membayangkan kemungkinan-kemungkinan akan mendapatkan kejutan romantis darinya. Tidak lagi sering-sering menengok ponsel atau email, sekedar melihat ada pesan darinya atau tidak. Bahkan mungkin aku sudah tidak punya perasaan padanya. aku memang tidak membuang sepenuhnya memoriku tentangnya dan hubungan yang tak biasa yang pernah ada di antara kami, karena memang aku tidak bisa. Aku hanya menguburnya sebagian, menimbunnya dengan segala kesibukanku di sekolah untuk persiapan ujian beberapa bulan lagi.

Cukup lama aku menatap layar laptopku. Kalau saja kyungsoo tidak mengagetkanku aku mungkin tidak segera mengirimkan balasannya.

Ne, gomawo.. ^^

Hanya itu. aku menghela nafas setelah menekan tombol ‘send’.

Esoknya di sekolah..

“benar kan apa yang kubilang waktu itu..” kata minhee tiba-tiba.

“soal apa?”

“soal gadis yang bersama baekhyun itu..” katanya lagi. aku mengernyit. “hubungan mereka tidak bertahan lama.. lalu baekhyun berkencan dengan entah siapa, itu juga tidak lama. Hanya 2 bulan malah.. kau masih punya kesempatan..” ia menyenggol bahuku.

ada sedikit rasa tidak suka ketika aku mendengar ‘gosip panas’ minhee. “eeyy.. kesempatan apa maksudmu?”

“hey.. ayolah.. kau menyukainya kan?”

Aku pura-pura tidak dengar. “ya! sunri-ya.. kau menyukainya kan?” ulangnya.

Aku melihat ke arahnya. Terdiam sesaat. “mmm… iya, dulunya..”

“sekarang?”

Aku mengangkat bahu. “molla..”

“kau ini bagaimana? masa’ tidak tau perasaanmu sendiri..”

“iya ya.. tapi memang seperti itu, mau bagaimana lagi, hehehe..” aku hanya menyeringai. “biarlah semua mengalir sebagaimana adanya.”

***

Sejak ucapan selamat ulang tahun yang terlambat 13 hari itu, hubunganku dan baekhyun kembali terjalin. Tapi kali ini aku lebih berhati-hati. Tidak terlalu banyak berharap. Aku hanya menganggapnya teman biasa. aku sudah kebal dengan segala macam ‘kata-kata mautnya’. Jantungku tidak berdebar sedahsyat dulu ketika bertemu dengannya. Memang masih ada debaran-debaran halus yang terasa aneh bagiku, tapi aku masih bisa mengontrolnya. Aku juga tidak lagi sesalah tingkah dulu seperti ketika minhee membicarakannya atau ketika kyungsoo menggodaku. Paling minhee hanya bilang “hey, pipimu merah tau..” bukan “kenapa kau jadi salah tingkah begitu? Aku kan hanya mengucapkan namanya..” . begitulah, sejauh ini aku menikmati semua itu.

Menikmati? Ya.. awalnya, saat semua itu masih berjalan ‘dengan sesuai’. tapi sekarang, aku sudah tidak menikmati. Halo~ sudah hampir setahun kami jadi ‘teman ngobrol yang menyenangkan’ dan bagiku waktu setahun—plus saat SMP dulu—sudah lebih dari cukup untuk sebuah kepastian hubungan kami. Bukannya aku terobsesi dengannya atau apa, tapi karena aku mulai merasa lelah. aku sudah bosan terjebak dalam permainannya.

Musim gugur akan berakhir. Aku merapatkan jaketku. “eonni, ppali..” aku berhenti, meletakkan tas belanjaan yang kutenteng lalu mengusap kedua  telapak tanganku.

“makanya bantu aku..” gerutunya.

“enak saja.. salah siapa kau belanja banyak sekali. eomma kan hanya meminta kita beli wortel, telur, lobak, sawi, dan tisu toilet saja. kau sendiri kan yang membuat tas belanjaan itu jadi beranak pinak..” omelku.

“haaah~ arasseo! Ayo jalan!” sahutnya sambil menenteng 2 tas belanjaan. “seharusnya aku tadi ajak kyungsoo saja..”

“seharusnya aku yang bilang begitu..” sahutku. “memangnya untuk apa barang sebanyak ini?”

“di ulang tahunku nanti, aku akan memasak untuk jiyoung oppa..” jawabnya sambil tersenyum.

“kau yang ulang tahun, kenapa kau yang malah repot?”

“waktu ulang tahunnya kemarin dia membuatkanku pasta..”

“dia bisa masak?”

“hhmm… rasa itu tidak terlalu penting. Yang penting adalah nilai dari masakannya..”

“aahh~ eeyy, eonni ulang tahunmu kan masih seminggu lebih, kenapa sudah belanja sekarang?”

“kan sekalian ke supermarket”

aku hanya memutar bola mataku. Entah apa yang membuat 2 manusia yang bertolak belakang itu sampai sekarang masih awet saja. kadang aku hanya geleng-geleng melihat tingkah yuri eonni yang sepertinya sudah tertular ketidakwarasan jiyoung oppa, seperti saat ini. “eonni, apa kau tidak bosan dengannya?”

“huh? Dengan jiyoung oppa maksudmu? Mm.. kadang-kadang sih, kalau dia sedang menyebalkan. Tapi kalau ingat sisi baiknya, rasanya rasa kesalku langsung hilang,” katanya sambil mengulum senyum. “memang kau tidak bosan sendirian?” tanya yuri eonni. Sendirian? Aku tersenyum getir mendengar pertanyaan konyol yuri eonni. “atau jangan-jangan, diam-diam kau sudah punya kekasih ya?”

Aku hanya mengangkat bahu sambil tersenyum. aku jadi teringat wejangan minhee, “sebenarnya hubungan kalian itu bagaimana sih? pacaran tidak, tapi kalau hanya teman, kalian sudah jelas sekali terlihat lebih dari itu. sudah setahun sunri-ya.. masih perlu pendekatan macam apa? kalian kan sudah saling mengenal, ahh.. bukan.. sangat amat saling mengenal. Kau mau mengulangi yang dulu lagi? ayolah sunri-ya.. aku yakin kau pasti juga tidak nyaman dengan semua ini kan?”  matda.. minhee benar..

“ya! kenapa malah melamun! Keretanya sudah datang, ppali sunri-ya!”

Aku duduk di tepi aliran sungai han. Hari ini angin bertiup agak kencang. Aku memandang lurus ke depan.

“mian, aku terlambat,” seseorang berdiri di sampingku. Aku menoleh dan tersenyum. “gwaenchanha..” ia kemudian duduk di sampingku. Lalu menyodorkan segelas cappuccino hangat. “hhmm…. Gomawo..”

ucapku lalu aku menghirup cappuccino itu. waah.. sepertinya enak..

“sudah lama menunggu?”

Aku menyeruput cappuccino yang dibawakannya “ehm.. ya sekitar 30 menit,” jawabku sambil tetap memandang sungai.

“oh.. jeongmal mianhae..aku membuatmu menunggu terlalu lama..”

“aahh~ aku saja yang datang lebih awal. Kau tidak terlalu terlambat kok..” aku tersenyum ke arahnya. “udara sedingin ini, kau tidak pakai syal?”

“malas..” ia menyeruput cappuccino miliknya.

“dasar kau ini! sama seperti kyungsoo..” aku mengambil syal milik kyungsoo di tas. “ini..”

“eo?”

“pakailah. Ini milik kyungsoo. Dia juga sering malas pakai syal. Kalau tidak diingatkan pasti tidak akan memakainya, padahal sudah tahu udara sedingin ini..” kataku. ia hanya menatap syal itu. “kau tidak sedang menungguku memakaikannya untukmu kan?” aku tertawa kecil.

ia ikut tertawa.“kau bisa membaca pikiranku ya..” ia melilitkan syal itu ke lehernya.

Aku hanya geleng-geleng kepala. “memangnya kau belum kapok? saat semua orang sedang asyik menikmati musim gugur, kau malah demam..”

ia hanya menyeringai dengan wajah tanpa dosa. “bagaimana kalau adikmu menanyakannya?”

“dia mana pernah peduli. Dia kan cerobohnya luar biasa. dia tidak akan menanyakan hal-hal seperti ini kecuali kalau perlu..” aku tersenyum geli mengingat tingkah kyungsoo.

“memangnya kau tidak ceroboh?” ia mengeluarkan kunci sepedaku dari sakunya.

“hah?!” aku buru-buru merogoh sakuku. “haaah~ gomawo.. untung kau menemukannya..” aku meraih kunciku lalu memasukkannya ke saku.

“kau tidak mencabut kuncimu tau..”

“hehehe.. kurasa ceroboh itu keturunan..” aku hanya menyeringai dan kembali memandang aliran sungai han yang tenang sambil sesekali menyeruput cappucinoku. Untuk beberapa saat kami hanya diam. Aahh… seharusnya tidak seperti ini. ada hal yang harus kubicarakan dengannya. Aku meliriknya diam-diam. Ia masih asyik memandangi sungai han. Aku mengetuk-ngetuk gelas cappucinoku sambil sesekali mengedarkan pandangan. tapi, aku harus mengatakannya sekarang.

“sunri-ya..”

Aku menoleh. “eo?”

Ia tampak menatapku dalam. “aku mau minta maaf..” katanya.  aku mengernyit. “aku tau, selama ini aku sudah sering membuatmu tidak nyaman. Tapi, betapa bodohnya aku, untuk minta maaf saja aku tidak berani.” Ia tersenyum kecut.

“tidak perlu minta maaf..” kataku tiba-tiba.

Ia menoleh. “aku bisa mengerti kalau kau belum bisa menerimanya..”

“kubilang kau tidak perlu minta maaf,” ulangku. “mungkin memang seperti inilah seharusnya..” aku sedikit merasa ganjil dengan kalimat yang kuucapkan barusan. Tidak perlu minta maaf? Memang harusnya seperti ini? kalimat macam apa itu? bukankah selama ini aku merasa semuanya serba abu-abu? Bukankah aku selama ini sudah cukup ‘tersiksa’ dengan segala kelakuannya yang seolah-olah mempermainkanku? Bukankah aku memang perlu kejelasan tentang hubunganku dengannya? Pacaran tidak, teman biasa juga tidak. Disebut apa itu? mana kalimat bernada kesal yang sudah kususun selama ini? bukankah ini saat yang tepat untuk mengungkapkan itu?

“sunri-ya..” ia menghadapku.

“sudah kubilang, jangan minta maaf lagi. tidak ada yang perlu dimaafkan, baekhyun-ah..” aku menepuk lengannya, berusaha sewajar mungkin. Walaupun sebenarnya di dalam diriku sedang terjadi pertentangan yang hebat.

Ia menghela nafas. “gomawo..” ia tersenyum tipis. “sunri-ya..”

“hm?”

“bolehkah aku mengajukan sebuah permintaan?”

“GUK!” Seekor anak anjing tiba-tiba menghampiri kami. “oh.. anjing siapa ini?”

“sepertinya dia tersesat..” baekhyun menunjukkan kalung anjing bertuliskan ‘lilo’ itu.

“aigoo… kasian sekali.. jadi namamu lilo..” aku mengelus bulu putih anak anjing itu. “pemiliknya pasti mencarinya,” kataku.

baekhyun mengangguk. “ayo kita..”

“lilo! Lilo! Aahh! Pergi ke mana dia?” terdengar seorang gadis kecil memanggil nama anjing ini.

“ayo lilo, kau harus pulang,” kata baekhyun sambil menggendong anjing kecil itu. aku mengekor di belakangnya.

“omo! Lilo!” seru gadis itu begitu melihat kami membawa anjing kecilnya. Anjing itu kini sudah beralih di gendongan si gadis kecil. “sudah kubilang, kalau main jangan jauh-jauh.. kau nakal sekali..” omelnya. Aku tertawa geli. Mana lilo tau kalau dia sedang dimarahi? “gomawo oppa.. gomawo eonni..” ucap gadis kecil itu.

“ne.. lain kali hati-hati ya..” aku tersenyum lebar.

“kau dengar itu lilo?” gadis kecil itu menatap anjingnya, membuatku ingin tertawa. Maksudku kan bicara dengannya, mana lilo tau soal hati-hati kalau main? haha.. “lilo ayo ucapkan terima kasih..” kata gadis kecil itu.

“GUK!” kuanggap itu sebagai ucapan terima kasihnya.

“anak pintar..” gadis kecil itu mengelus anjingnya. “geurae, aku pergi dulu.. sekali lagi terima kasih..” ucapnya sambil tersenyum.

“ne.. annyeong lilo..” baekhyun mengelus bulu anjing itu sebelum mereka pergi. “oh ya!” tiba-tiba gadis itu berbalik. Gadis itu menghampiri kami. Ia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan 2 lembar tiket. “aku memenangkan 2 buah tiket bioskop,” ia menyodorkannya ke kami. “karena aku tidak suka filmnya dan tidak tau harus menonton dengan siapa, kalian bisa memakainya. Ini juga sebagai ucapan terima kasihku. Kuharap kalian mau menerimanya,” katanya polos.

Aku dan baekhyun saling berpandangan. Ia mengedikkan bahu sambil tersenyum. “geurae.. jeongmal gomawo..”

Gadis kecil itu tersenyum lega. “geurae.. annyeonghi gaseyo..” katanya lalu pergi. Sekarang tinggal kami berdua dan 2 tiket itu. “kau mau nonton?” tanyanya.

“aku tidak terlalu suka film romantis..” kataku. kau bisa nonton dengan yang lain, kataku dalam hati.

“lalu mau diapakan ini?”

“iya.. sebenarnya sayang juga kalau tidak dipakai..” kataku. “kalau kau tidak mau memakainya, biar kuberikan pada yuri eonni. Dia pasti mau memakainya..”

Tiba-tiba ekspresinya berubah serius. “sunri-ya..”

“e-eo?”

“bisakah kita mulai lagi dari awal?”
aku tertegun mendengarnya. Kenapa dia mendadak mengubah topic pembicaraan? “a-apa maksudmu?”

“ayolah sunri-ya.. kau tau kan apa yang sedang kubicarakan..”

Aku terdiam. Ya, aku memang tau, aku hanya pura-pura tidak tau. “mulai dari awal?” gumamku. Aku menunduk lalu menggeleng lemah. “kita tidak bisa kembali ke masa lalu..” aku mengangkat wajahku. “aku sudah mengenalmu, kau juga sudah mengenalku. Bagaimana cara memulainya?” ujarku. Ia terdiam.

“kau tau, sebenarnya aku juga ingin mengatakan sesuatu. Ya, aku memang kesal. bohong jika aku bilang aku bisa menerima permintaan maafmu,” aku memberanikan diri menatapnya. “tapi aku juga bohong jika aku bilang aku tidak bisa memaafkanmu. Entah kenapa aku tidak pernah bisa marah padamu, aku tidak bisa tidak memaafkanmu. Aku tidak bisa lakukan itu..” aku berhenti sejenak. “hubungan ini terlalu rumit bagiku. Semua serba menggantung. Aku seperti berada dalam permainan labirin. Mencoba setiap labirin untuk dapat menemukan jalan keluar tanpa petunjuk apapun. Atau mungin..” aku mengalihkan pandanganku, rasanya aku sudah tidak tahan melihat matanya yang menatapku begitu dalam. “aku yang tidak bisa membaca petunjuk itu..”

“tapi aku sudah terlanjur terbiasa dalam kerumitan ini..” aku tersenyum pahit. “baekhyun-ah.. apa yang kau inginkan jika kita bisa mulai dari awal lagi?” aku balik bertanya.

Baekhyun memegang kedua pergelangan tanganku “aku akan memperbaiki semuanya, ini… juga terlalu rumit bagiku. aku terlalu takut memulainya. Jika saja aku mengatakan perasaanku padamu dari awal, keadaan tidak akan jadi sesulit ini. kau tidak akan.. terluka..” ia mengalihkan  pandangan dariku. “aku tidak sungguh-sungguh menyukai gadis-gadis itu.. tapi aku sungguh tidak bermaksud mempermainkan mereka”

Aku sedikit terkejut mendengar itu. tidak pernah kubayangkan dia melakukan itu pada gadis lain. Kalau sampai mereka tau, tentu mereka akan sangat terluka.

“kau tak perlu merasa bersalah, aku bukannya belum bisa menerima permintaan maafmu. Aku hanya belum bisa berdamai dengan egoku..” ucapku. “walaupun aku sering berharap kita dapat melangkah lebih jauh dari ini, tapi kurasa..aku tidak sanggup melakukannya.. mianhae..” aku melepas pegangannya perlahan, namun tiba-tiba ia menahannya.

“mianhae sun..”

Aku meletakkan telunjukku di depan bibirnya. “sudah kubilang kau tidak perlu minta maaf. Ini bukan salahmu sepenuhnya..” aku mencoba untuk tersenyum padanya. “maaf kalau aku selalu bersikap menyebalkan atau merepotkanmu selama ini..”

“kita.. masih.. bisa… bertemu kan?” tanyanya lirih.

Aku terdiam sejenak lalu mengangguk kecil. “tentu saja, kenapa tidak? Kita kan tidak sedang bermusuhan.. kita masih bisa bertemu..”

“kalau aku sakit, apa kau masih menjengukku seperti kemarin?”

“jangan pernah berpikiran seperti itu! aku tidak suka melihatmu sakit apalagi sampai terbaring di rumah sakit! kau harus menjaga kesehatanmu. jangan ceroboh dengan tubuhmu..”

Ia hanya menatapku dalam. Jika tidak dalam situasi seperti ini, tatapan mata itu akan terasa begitu hangat. Tapi sekarang ini tatapan itu serasa menikamku dalam-dalam. Sungguh, sebenarnya dalam hati kecilku aku tidak tega melihatnya seperti ini. tapi, dengan semua yang telah kualami, hatiku berkata aku tidak akan sanggup bertahan lebih lama lagi. perlahan, aku melepaskan pegangannya lagi, sebelum terlalu banyak pikiran kontradiktif lain yang membuatku semakin gamang. kali ini dia tidak menahanku. “aku pulang dulu, baekhyun-ah..”

“kutemani kau pulang..” katanya tertahan.

Aku menggeleng lalu menunjukkan kunci sepedaku sambil berusaha tersenyum. sekilas aku melihat sepedanya yang terparkir di sebelah sepedaku.

“kita bisa pulang bersama..”

“kumohon.. tidak untuk saat ini..” kataku. “mianhae..” suaraku mulai terdengar sedikit bergetar.

Baekhyun mengangguk. “arayo..” ia tersenyum tipis. “josimhae..”

Aku melangkah menuju sepedaku tanpa berani menatapnya lagi. aku tidak mau goyah karena tatapan itu. atau karena senyum itu. juga karena kata-kata yang keluar darinya. dadaku sudah terasa sesak.Aku berusaha secepat mungkin meninggalkan tempat itu.

Baekhyun POV

Mataku terpaku melihatnya, bahkan sampai dia lenyap dari pandanganku. Sedikit tak percaya melihat sunri bersikap seperti itu. dia memang tidak menangis, tapi aku bisa merasakan dia begitu terluka. dan itu karenaku, sekalipun dia bilang ini bukan salahku. Kuakui, memang semua ini terlalu rumit, terlalu melelahkan baginya. Aku tidak pernah bilang padanya secara langsung kalau aku menyukainya, aku membutuhkannya, aku takut kehilangannya, atau kalimat lain sejenisnya. Aku terlalu takut, hanya itu alasannya. Aku baru sadar aku telah mempermainkannya dengan apa yang disebut perhatian. Ya, aku selalu memberikan perhatian yang lebih padanya, lebih daripada gadis-gadis lain yang pernah singgah dalam hidupku tanpa memberinya kepastian. Sejak dulu, saat perasaan itu pertama kali muncul sampai sekarang ini. dia begitu berbeda sehingga membuatku takut mengatakan hal itu, aku takut dengan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi.

Mianhe sunri-ya..

Kuharap kelak aku dapat menepati janjiku padamu, aku akan memperbaiki semua ini, aku akan yang membuatmu bahagia. Aku akan menunggu sampai kau bisa berdamai dengan egomu, sunri-ya..

-cinta itu seperti pisau. Salah sedikit menggunakannya, dia bisa melukaimu. Juga sebaliknya, jika kau dapat menggunakannya dengan benar, dia akan memudahkanmu-

 

THE END

Advertisements

About dkcappucino

A small person in a world of big people || dkhapsari.tumblr.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: